12
Apr-2015

Banyu Nibo, Eksotisme 12 Air Terjun

Air terjun Banyu Nibo memang tidak setenar air terjun Grojogan Sewu di Tamangmangu, Karang Anyar, Jawa Tengah. Namun soal keindahan alam yang ditawarkan, Banyu Nibo tidak kalah. Air terjun memiliki 12 air terjun dengan 16 kedung, sekelompok cekungan alami yang memiliki nama dengan sejarah tersendiri.

Gemercik air terjun menari membelah pagi. Sepoi angin mengoda insan yang tengah menikmati segelas kopi. Pagi pun terasa lebih hangat dengan melihat sunrise dari atas air terjun. Suasana perkampungan yang masih alami, dengan selimut kabut seakan membawa kita ke surga dunia. Berkunjung ke wisata alam Banyu Nibo di pagi hari memang lebih menantang serta mengasyikan. Di mana kita akan dapat merasakan suasana yang benar-benar nyaman. Sehingga rasa penat setelah menjalankan rutinitas keseharian akan sirna dengan sendirinya.

Air terjun Banyu Nibo terletak di dusun Rejosari, desa Terong, kecamatan Dlingo, Bantul, DIY. Kawasan ini masih menawarkan suasana pedesaan yang asri, dengan landsekap yang berbeda. Banyu Nibo tidak hanya menawarkan sekedar aliran air yang jatuh diantara bebatuan raksasa.

Menikmati air terjun Banyu Nibo, bisa dilakukan setiap saat. Tetapi tentu saja, di musim hujan debit airnya akan lebih besar. Dengan panorama alam yang terbentang hijau di atas pengunungan seribu, kawasan ini layak menjadi pilihan untuk mengusir kepenatan sekaligus mensyukuri nikmat alam-Nya.

Air Terjun Banyu NiboBanyu Nibo dengan segala seluk beluk dan sejarahnya tidak hanya sekadar menawarkan keindahan alam, namun juga menyadarkan kita akan tingkah laku manusia. Seperti tersirat dalam nama Kedung Maling. Dimana kedung ini dulunya merupakan tempat membuang barang bukti pencurian dan menghilangnya pelaku pencurian hingga perampokan.

Sebagai wahana wisata alam yang masih tergolong baru, Banyu Nibo ibarat gadis yang masih benar-benar polos. Semuanya masih serba alami. Sehingga sangat perlu polesan di sana sini. Namun begitu justru kealamian ini merupakan keunggulan serta keistimewaan tersendiri yang disuguhkan Banyu Nibo.

Selain menawarkan air terjun, di wisata alam Banyu Nibo setiap wisatawan juga ditawari keselarasan warga Rejosari dalam mengelola alamnya. Lebih dari itu pengunjung juga akan disuguhi berbagai atraksi seni dan budaya. Namun akan lengkap dan menarik bila saat panen tiba. Mengingat potensi pertanian dan perkebunan yang sangat tinggi dan 80% penduduknya menjadi petani.

Air terjun Banyunibo atau Grojogan Banyunibo, merupakan air terjun utama dan terdalam serta tertinggi karena dari dasar hingga puncaknya mencapai sekitar 30 meter. Setelah mengunjungi air terjun Banyu Nibo, kita dapat melihat air terjun Sapit Urang, yang berlokasi di bawah Banyu Nibo dengan ketinggian 6-8 meter. Di sebut Air terjun Sapit Urang, karena dahulu di sekitar lokasi banyak di temukan udang atau dalam bahasa Jawa disebut urang.

salah satu kedung banyu niboTidak puas rasanya bila tidak melihat Kreteg Watu. Kreteg Watu ini merupakan jembatan alami dari batu hitam yang di bawahnya sungai dan di atasnya di lewati para petani untuk membawa rumput, konon juga di pakai oleh orang yang akan bertapa menuju hutan dan kawasan air terjun Banyu Nibo. Di kawasan sungai ini banyak di temukan batu-batu gudik (hitam kasar) yang menarik. Pasca gempa bumi 2006 batu-batunya saling berhimpitan sehingga kondisi Kreteg Watu sudah berubah.

Selain itu, jauh di bawah Kreteg Watu, Anda akan disuguhi Kedung Pace, dimana di sekitarnya ada banyak pohon pace. Menurut cerita turun temurun, zaman dahulu ketika ada orang masuk di sekitar kawasan Banyu Nibo, apabila miliki niat jahat, dan dia menjalankannya bisa tertangkap, sehingga di kedung ini di percayai sebagai pertanda pahit sesuai daun pace yang pahit.

Dan yang terakhir disebut Kedung Kawuk, konon juga memiliki cerita yang cukup unik karena zaman dahulu kedung terlihat banyak ikan tetapi setelah kedung itu di di kuras (tawu) ikannya justru menghilang atau bahkan tidak ada yang tertangkap.

Selain potensi air terjun Banyu Nibo yang memiliki cerita unik, di atas kawasan air terjun yang jaraknya sekitar 700 meter dari Bukit Patuk Gunung Kidul, juga terdapat areal pertanian milik pemerintah Desa Terong dan sebagian milik penduduk. Di lokasi pertanian ini biasanya dipakai study hasil pertanian para pelajar dan para mahasiswa.

elang jawa melintas di atas Banyu NiboKawasan ini juga masih kaya akan satwa liar, terutama burung. Jika beruntung, Anda bisa melihat Elang Jawa berputar-putar mencari mangsa di ketinggian. Sungguh pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.
Menurut ketua Pokdarwis Rejosari, Sagiyo, untuk menuju lokasi wahana wisata Banyu Nibo dapat ditempuh melalui dua jalur. Yang pertama jalan Wonosari. Setelah perempatan Patuk ke kanan atau selatan menuju Dlingo dengan jarak 7 km. “Sedangkan bila melewati jalur Pleret, Bantul jarak yang tempuh hanya sekitar 5 km tetapi dengan jalan menanjak dan berkelok” ujarnya.

1

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec