31
May-2016

Berkunjung ke Masjid Pathok Negara Plosokuning

Masjid Plosokuning 2Satu dari empat Masjid Pathok Negara yang masih terjaga keasliannya adalah Masjid Pathok Negara Plosokuning. Masjid ini juga sering disebut Masjid Sulthoni Plosokuning, yang berdiri di atas tanah kasultanan seluas 2.500 meter persegi.

Bangunan masjid saat didirikan seluas 288 meter persegi. Setelah pengembangan, jadi 328 meter persegi.Di antara lima masjid Pathok Negara milik Keraton Ngayogyakarta, Masjid Pathok Negara “Sulthoni” di Plosokuning merupakan bangunan yang paling terjaga kelestariannya. Masjid ini didirikan setelah pembangunan Masjid Agung Yogyakarta. Karenanya, bentuk masjid meniru Masjid Agung sebagai usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta.

Masjid Plosokuning 4

Persamaan ini didukung beberapa komponen yang ada di dalamnya. Seperti mihrob, kentongan, dan beduk. Masjid Pathok Negara memiliki ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan, terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap.

Perbedaan jumlah tumpang menandakan Masjid Pathok Negara lebih rendah kedudukannya dibandingkan Masjid Agung Yogyakarta yang memiliki atap tajuk bertumpang tiga.

Ciri-ciri lain dari kekhasan masjid Pathok Negara adalah pada masing-masing masjid ada kolam keliling, pohon sawo kecik, dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid.

Awal didirikan, pintu masjid hanya satu dan sangat rendah. Karenanya, seseorang yang akan masuk masjid harus menunduk dan menunjukkan tata krama serta sopan santun pada masjid. Daun pintu dan temboknya dilakukan penggantian pada tahun 1984. Dulu tembok dinding masjid setebal dua batu. Karena terkikis terus-menerus, sekarang tinggal satu batu.

Masjid Plosokuning 3

Di dalam masjid, ada mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar. Mimbar ini dilengkapi tongkat yang dipakai khatib saat memberikan khotbah yang sampai sekarang masih digunakan. Kini, Masjid Pathok Negara termasuk Masjid Sulthoni Plosokuning merupakan bangunan cagar budaya. Masjid ini memiliki nilai sejarah dan masih asli. Seandainya ada perbaikan, hanya karena kebutuhan. Tiang-tiang kayu masih banyak yang asli, kendati diganti hanya sedikit dan bentuk, tekstur, dan warna tetap dipertahankan sama.

Di Kompleks Masjid Pathok Negara Plosokuning ini terdapat makam. Makam tersebut merupakan makam imam pertama, yakni Kyai Mustafa.

Sejarah

Dalam kekuasan Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, ada empat masjid Pathok Negara yang dibangun bersama satu masjid pusat di dekat pemerintahan Keraton Ngayogyakarta. Masjid Pathok Negoro Ploso Kuning merupakan salah satu masjid Pathok Negara. Masjid Pathok Negara atau dikenal sebutan Pathok Negari merupakan Masjid Kagungan Dalem Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Masjid Pathok Negara berjumlah empat dibangun antara tahun 1723 – 1819 pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono I. Tujuannya sebagai batas wilayah dan tempat pertahanan bagi Keraton Ngayogyakarta. Ke empat masjid dibangun di empat penjuru mata angin, yang berjarak 5 – 10 kilometer dari Kutanagara atau pusat pemerintahan.

Untuk Selatan ada Masjid Dongkelan (Kecamatan Kasihan, Kabupaten, Bantul), kemudian Timur adalah Masjid Babadan di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Utara Masjid Ploso Kuning atau masjid Sulthoni di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman dan Barat adalah Masjid Mlangi di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Kata Pathok Negara merupakan nama salah satu jabatan dalam struktur pemerintahan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Yaitu, anggota penghulu pada peradilan Surambi. Para Pathok Negara diizinkan menempati suatu desa perdikan dan dibangunkan sebuah masjid dan dipimpin para Pathok Negoro tersebut. Selanjutnya, seiring perkembangan zaman, penghulu Pathok Negara sekaligus pimpinan jamaah masjid di desa perdikan.

Masjid Plosokuning 5

Selain empat masjid tersebut, menyusul dibangun Masjid Wonokromo (Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul) oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IV. Khusus untuk Masjid Wonokromo ini, tidak dipimpin seorang Pathok Negara.

Keberadaan Masjid Pathok Negara merupakan upaya Sultan membuat benteng spiritual dan benteng pertahanan fisik yang digunakan menghimpun kekuatan pada masa perang. Khusus Plosokuning, diambil dari nama pohon Ploso yang memiliki daun berwarna kuning, yang ada di sebelah Timur masjid. Dari pohon tersebut, juga sekarang dijadikan nama Desa Plosokuning.

Tradisi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Di depan masjid ada dua kolam dengan kedalaman tiga meter. Setiap orang yang akan masuk masjid, harus bersuci terlebih dahulu di kolam tersebut. Makna lain dari dua kolam ini adalah jika menuntut ilmu, haruslah sedalam-dalamnya.

Saat ini, kolam digunakan memelihara ikan dan mencuci kaki sebelum masuk masjid.

Masjid ini masih menganut adat lama, di mana adzan pada saat Sholat Jum’at dilakukan dua kali. Dahulu, sekitar tahun 1950 adzan pertama dilakukan lima orang sekaligus dan adzan kedua dilakukan salah seorang dari mereka.

Saat khotbah, menggunakan bahasa Arab. Baru tahun 1960, adat dirubah. Muadzin yang semula berjumlah lima orang menjadi dua orang. Tetapi adzan tetap dilakukan dua kali. Khotbah juga diganti menggunakan bahasa Jawa. Di bagian pintu gerbang, masjid memiliki pintu gerbang berundak. Pada tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri dari tiga elemen yakni Iman, Islam, dan ikhsan.

Pada lima undakan kedua menunjukkan rukun Islam ada lima, sedangkan enam undakan ketiga menunjukkan rukun iman itu ada enam.

Pada momen tertentu, di masjid ini dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti keluarga kraton. Misalnya tradisi Bukhorenan. Tradisi ini menjadi bagian dari tradisi keraton yang lestari hingga sekarang. Maksud dan tujuannya tidak lain mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhari.

Koordinat:

7°44’9″S   110°24’26″E

Lokasi:

– Masjid Pathok Negara Plosokuning berada di Jalan Plosokuning Raya Nomor 99 Minomartani, Ngaglik, Sleman Yogyakarta.

– Untuk menuju ke sini, ikuti Jalan Kaliurang hingga KM 9. Sebelum pertigaan lampu merah, ada pertigaan dengan jalan ke arah Timur. Ikuti jalan tersebut hingga bertemu perempatan dengan empat petunjuk arah. Belok ke kanan untuk ke arah Minomartani, yaitu lewat Jalan Plosokuning Raya. Ikuti terus jalan tersebut hingga bertemu Masjid Sulthoni Plosokuning.

– Peminat yang ingin berwisata religi bisa memanfaatkan kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Alternatif kendaraan umum, bisa menggunakan taxi, rental mobil, atau ojek.

 Potensi:

Dekat dengan Masjid Sulthoni Plosokuning, obyek wisata yang terdekat adalah Candi Gebang, Embung Tambakboyo, dan Stadiun Sepak bola Sleman.

Tips:

–   Berpakaian yang rapi dan sopan.

–   Bisa datang setiap saat, untuk wisata religi, disarankan untuk bertepatan dengan waktu sholat sehingga bisa berjamaah sholat.

–   Untuk mengetahui detail arsitektur dan bangunan, datang di luar jam sholat dan waktu siang hari.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec