foto 1Awalnya, Can di Pendem digali oleh seorang Belanda benama de Plink. Ia tidak sendirian, tetapi melibatkan raktat. Karakter bangsa penjajah adalah menguasai, begitu mendapatkan kotak tembaga yang dicari dari penggalian tersebut, langkah de Plink berhenti begitu saja. Di tengah-tengah Candi Pendem terdapat lubang bekas sumur. Bahan pembuatan candi ini adalah batu Andesit dan didirikan pada masa kekuasaan Rakai Hayuwangi.

Itulah cerita yang selalu muncul dari penduduk setempat soal Candi Pendem ini. Cerita ini terus bergulir, turun-temurun sampai sekarang.

Candi ini berukuran 11,9 meter x 11,9 meter dan terletak 3-4 meter dari permukaan sawah. Itulah mengapa candi ini lebih akrab di sebut Candi Pendem.foto 2

Seperti Candi Asu, yang lokasinya tidak jauh dari candi ini, di Candi Pendem juga konstruksinya belum selesai. Motif hiasan di tangga baru pada tahap awal alias motif Jaladwara, juga motif lain di candi.

Seperti di candi lainnya, di kompleks Candi Pendem ada satu motif yang selalu muncul. Yaitu, motif sulur tanaman yang menjalar yang menaungi binatang di bawahnya, paling sering burung. Ini menyimbolkan hubungan erat yang tidak mungkin putus di antara seluruh kehidupan berdasar prinsip Illahi. Walau begitu, di candi ini,seperti halnya di candi-candi lainnya di kompleks itu ada satu motif yang selalu muncul. Yaitu, motif sulur tanaman yang menjalar yang menaungi binatang di bawahnya, paling sering burung. Ini menyimbolkan hubungan erat yang tidak mungkin putus yang terjalin di antara seluruh kehidupan di dunia berdasar prinsip Illahi. Di sini, yang digambarkan adalah Burung Pelikan.

Oh ya, untuk diketahui, ada dua candi di dekat Candi Pendem, yaitu Candi Asu dan Candi Lumbung. Karenanya, tiga candi itu juga disebut Candi-Candi Sengi, karena letaknya di Desa Sengi,Kecamatan Dukun, sebelum Candi Lumbung dipindah ke Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan.

Kembali ke Candi Pendem, candi ini terdiri dari kaki setinggi 1,88 meter dan sebagian tubuhnya berdekorasi relief. Di antaranya, relief burung di tengah pola hias sulur, pot dengan pola sulur, dan relief gana.

foto 5Di tengah-tengah candi terdapat lubang bekas sumur. Seperti dua candi lainnya, Candi Asu dan Lumbung, bahan pembuatan candi adalah batu Andesit dan didirikan pada masa kekuasaan Rakai Hayuwangi.

 Dalam prasasti Salingsingan yang ditemukan dan prasasti Sri Manggala tahun 874, disebutkan kegiatan dharma atau kegiatan keagamaan banyak dilakukan di tiga candi itu. Tidak ada penyataan yang menyebut Candi Pendem, namun prasasti memperlihatkan candi ini telah ada pada akhir abad VIII-IX. Sayangnya, prasasti sudah dipindah dari kompeks candi dan dipindah di Museum Candi Prambanan.

 

Sejarah:

Dari dulu hingga sekarang, mayoritas penduduk Desa Sengi adalah petani. Kepercayaan pada leluhur yang dominan, membuat tradisi ‘nenepi’ masih kuat. Mereka biasa meminta gambaran atas pekerjaan yang dilakukan, yaitu bertani.

Kepercayaan umum adalah jika melihat pohon rindang, maka padi akan tumbuh subur dan laku dijual. Sebaliknya, jika pohon gundul dan tidak berdaun, mereka harus berhati-hati karena sudah ada ‘warning’. Langkah terbaik, adalah merubah strategi agar tidak terjebak pada kerugian.

foto 4

Terkait nama prasasti yang ditemukan, bernama Salingsingan. Karena pergeseran penyebutan lafal dan nama, penduduk setempat menyebut dengan nama Tlingsing. Kebetulan, di dekat candi memang ada Sungai Tlingsing.

Koordinat:

7°32′00″LS 110°21′00″BT / 7,533333°LS 110,35°BT

Lokasi:

– Candi Pendem berada sekitar 100 meter dari Candi Asu. Letak candi ini berada di belakang Dusun Candipos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun.

– Letaknya berada di tengah sawah. Untuk mencapainya, harus berjalan kaki, menyusuri pematang sawah yang berliku-liku.

– Agar tidak bingung, mintalah bantuan masyarakat setempat atau juru kunci, karena tidak ada satupun papan petunjuk ke lokasi. Apalagi dari kejauhan, tidak kelihatan ada candi, karena letaknya yang lebih rendah dari sawah-sawah di sekitarnya.

foto 3Potensi:

– Trilogi candi di Dukun-Sawangan, yaitu, Candi Asu dan Candi Lumbung. Ketiganya, Candi Pendem ini.

– Pos Babadan, tempat pengamatan Gunung Merapi.

– Ketep Pass.

– Museum Misi Muntilan (Gereja Khatolik Pastoran).

Tips:

– Sebaiknya membawa sandal atau sepatu yang khusus untuk berjalan-jalan di sawah.

– Jangan lupa pakaian lapangan dan topi untuk menutup kepala. Sehingga perjalanan menikmati candi ini lebih nyaman.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec