24
Jun-2015

Desa Wisata Gerabah Pundong

Di Jogja, gerabah identik dengan Kasongan. Tapi bila kita telusuri sejarah, gerabah Kasongan ternyata berawal dari kecamatan Pundong, tepatnya pedukuhan Jetis Panjangrejo

Kecamatan Pundong berada sekitar 17 km dari kota Yogyakarta. Tanahnya yang subur untuk pertanian menjadikan masyarakat Pundong bekerja sebagai petani. Namun di balik kesibukannya sebagai petani, sebagian warga Pundong- masyarakat yang tinggal di Pedukuhan Jetis- menekuni pekerjaan sampingan sebagai perajin gerabah. Hingga akhirnya, tahun 1975 Pedukuhan Jetis dijadikan Desa Wisata Gerabah.gerabah Panjangrejo Pundong
Gerabah yang dihasilkan kala itu memang baru sebatas perlengkapan alat rumah tangga, utamanya kebutuhan dapur seperti keren, cobek, kendi hingga celengan. Sehingga produk mereka hanya dipasarkan di sekitar Bantul.
Seiring perkembangan waktu, dari hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, perajin mulai mengembangkan bentuk gerabah yang lebih menarik. Sehingga gerabah hasil buatan Panjangrejo layak dijual untuk dijadikan buah tangan setiap wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Apalagi setelah gerabah Panjangrejo mulai dipasarkan di Kasongan. Bahkan gerabah Panjangrejo juga laku di pasar internasional setelah dipasarkan di Bali.
Menurut Kepala Dukuh Jetis, Jumirah, kerajinan gerabah ini sudah dikerjakan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka. Para perajin yang saat ini masih menekuni pekerjaannya merupakan generasi ke tiga. Ada 60 perajin dari 150 KK warga Jetis yang setiap harinya bergelut membuat kerajinan gerabah.
Gerabah Panjangrejo PundongHidup Segan Mati Tak Mau
Desa Wisata Jetis di era 1980-1990-an yang telah besar tiba-tiba sepi. Pasca terjadinya bom Bali, produksi gerabah Panjangrejo tidak lagi diminati. Desa wisata yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam perjalanannya mandeg. Aktivitas perajin sejenak terhenti. Begitu pula ketika terjadi gempa bumi 2006. Namun mereka tidak terlalu larut dalam duka, dan kembali menekuni pekerjaannya sebagai perajin gerabah.
Karena kurangnya perhatian serta dukungan pemerintah desa, Desa wisata Jetis dengan kerajinan gerabahnya, boleh di kata hidup segan mati tak mau. Dalam menjalankan kegiatan wisata, masyarakat hanya sebatas jalan ditempat sehingga kurang berkembang. Namun masyarakat berharap pemerintah dapat menghidupkan kembali.
Masyarakat yang selama ini setia menekuni pekerjan sebagai perajin, untuk sementara membuat gerabah untuk memenuhi pesanan dari Kasongan, dan hanya dibuat setengah jadi. Proses finishing hingga pemasaran dilakukan oleh penjual yang memiliki showroom di Kasongan. Produk-produk atau gerabah yang dibuatnya pun tergantung pesanan, seperti souvenir pengantin, vas bunga ataupun asbak. Gerabah Panjangrejo Pundong
Jalur menuju lokasi
Untuk menuju lokasi desa Jetis tidak terlalu sulit karena berada di jalur utama wisata Parangtritis. Ketika sudah menemukan perempatan Ngagruk, belok kanan hingga menemukan Balai Desa Pajangrejo. Sayangnya upaya masyarakat untuk mengembangkan serta menghidupkan lagi Desa Wisata Jetis tampak masih sulit terwujud. Selain tidak adanya dukungan dari pemerintah desa, akses jalan yang kurang lebar hanya bisa dilalui kendaraan roda empat berukuran kecil. Sedangkan kendaraan besar seperti bus, tidak bisa menuju ke lokasi.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec