27
Apr-2015

Desa Wisata Harus Miliki Kekhasan

Untuk menyedot minat calon wisatawan, sebuah desa wisata harus bisa tampil dengan ciri khas sendiri. Dituntut kejelian dari pihak pengelola, untuk mengetahui dan menampilkan potensi khas mereka sendiri

Perkembangan desa wisata di Yogyakarta semakin pesat. Sayangnya masing-masing desa wisata banyak memiliki persamaan dalam paket yang dijual, sehingga kurang menarik bagi wisatawan.Oleh karenanya desa harus memiliki kekhasan agar layak jual. Hal ini terungkap dalam sarasehan Desa Wisata Jogja Istimewa yang diadakan program studi S3 Pariwisata Sekolah Pasca Sarjana UGM.
Sarasehan berlangsung santai, karena pembicara maupun audiens duduk lesehan. Disela sarasehan juga dilakukan launching The Stars ( Susttainable Tourism Action Reseacrh School). Dengan sarasehan ini diharapkan terbangun komunikasi dan kerjasama dalam meningkatkan kualitas produk dan desa wisata dengan melibatkan unsur pemerintah, bisnis, pengelola desa wisata serta akedemisi.
Menurut Yusuf Sudadi dari Asita DIY ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan pengelola desa wisata karena hal inilah yang menjadi daya tarik setiap wisatawan. Ketiga hal tersebut yakni edutainment, otentisitas dan go green.
Edutainment, sambung Yusuf, akan memberi pemahaman setiap pengunjung yang datang ke desa wisata tersebut. Semua atraksi seperti cara membajak sawah, harus menjelaskan proses dari awal hingga akhir sehingga pengunjung akan memahami apa yang dilakukannya. Intinya adalah, semua harus mengandung unsur edukasi atau bersifat pendidikan.
Yusuf menambahkan otentisitas adalah mempertahankan keaslian tradisi seperti legenda, tradisi budaya hingga flora faunanya. Jangan karena di suatu desa wisata menjual produknya laris terus diikuti oleh desa wisata lainnya tanpa memperhatikan ciri khas yang ada di desa tersebut. Dengan menjual keasliannya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pengunjung. Dan yang terpenting harus ada kesesuaian antara produk yang akan dipasarkan.
“Kalau go green sudah jelas, alam pedesaan yang hijau harus dipertahankan keasriaannya. Go green menjadikan daya tarik pengunjung di tengah isu pemanasan golabal saat ini,” tandas Yusuf.
Ketua Program Studi S2 dan S3 Pariwisata, Prof Dr M Baiquni mengungkapkan industri pariwisata sebagai salah satu motor penggerak pembangunan ekonomi global sepatutnya menaruh perhatiaan serta kepedulian dalam penyelamatan bumi. Kesadaran serta tindakan nyata pihak industri pariwisata yang mengarah ke green tourism seyogyanya menjadi visi serta nilai-nilai yang harus dikuatkan dalam bisnis yang dijalankan desa wisata.
Baiquni menguraikan desa wisata sebagai produk wisata alternatif mesti didorong dan dikembangkan dalam mempertahankan kelestarian lingkungan tanpa meninggalkan nilai-nilai sosial budayanya. Pengelola desa wisata yang kian berkembang di Yogyakarta ini, seharusnya mampu menerapkan prinsip ekowisata dengan terus menjaga lingkungan.
Saraseh desa wisata digelar dalam rangka memperingati Hari Bumi ini diikuti sekitar 80 peserta pengelola desa wisata se DIY. Isu go green menjadi topik utama agar pengelola desa wisata selalu memperhatikan lingkungan dengan menjaga flora dan fauna.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec