02
Dec-2016

Gedung BI Dibangun Demi Gula

Gedung Bank Indonesia 1

Di kawasan Titik Nol Jogja, Kantor Bank Indonesia atau lebih dikenal Gedung BI menjadi satu dari sepenggal sejarah jaman kolonial di Jogja. Salah satu, Kawasan 0 kilometer memang menjadi pusatnya bangunan-bangunan bersejarah di Jogja. Di ujung selatan Jalan Malioboro yang berbatasan langsung dengan serambi depan Keraton Jogja inilah, dulunya berbagai aktivitas berputar. Mulai perniagaan atau perdagangan, pemerintahan hingga aktivitas bisnis dan ruang publik.
Menilik sejarahnya, bangunan berarsitektur Eropa ini, sedari awal difungsikan sebagai Kantor Cabang (KC) De Javasche Bank (DJB) ”Djokdjakarta” dibuka pada 1 April 1879 sebagai kantor cabang ke-8 di Indonesia. Alasan didirikanya KC DJB untuk mengakomodasi usulan Firma Dorrepaal and Co Semarang. Presiden De Javasche Bank ke-7, Mr N P Van den Berg dan jajaran direksi menyetujui usulan itu mengingat volume perdagangan di Yogyakarta yang semakin besar.
Motor utamanya, adalah komoditi gula. Waktu itu, Jogja konon memiliki perputaran uang hingga 2-3,5 juta gulden. Dana sebesar ini disetor ke pusat melalui KC DJB Soerakarta. Nilai produksi gula kala itu sekitar 2.580 ton/tahun setara 300.000 pikul per tahun. Hal inilah yang mendorong Van den Berg menyetujui pembangunan Cabang DJB Yogyakarta yang kemudian mulai didirikan pada 1879 di atas tanah seluas 300 meter persegi. Bangunan ini menempati tanah berstatus eigendom yang berarti merupakan tanah milik DJB sendiri dan bukan lagi milik Sultan Yogyakarta.  Gedung Bank Indonesia 2
Bangunan yang hingga kini masih megah dan kokoh tersebut, dirancang oleh Arsitek Belanda Marius J. Hulswit dan Edward Cuypers dengan menampilkan aura kemegahan arsitektural bergaya Eropa. Hulswit adalah arsitek professional yang pertama di Indonesia. Sebelumnya, desain arsitek dibuat di Belanda dan dikirimkan ke Indonesia untuk dikerjakan oleh arsitek amatir. Hulswit adalah arsitek yang mensupervisi bangunan Algemeene di Surabaya dan membangun Gereja Katedral di Jakarta. Gedung Bank Indonesia Jogja, sedikit banyak diwarnai oleh gaya Algemeene yang kala itu cukup tren sebagai bangunan berukuran menengah atau sedang.
Secara struktur, gedung BI Jogja, terdiri dari bangunan dengan tiga lantai dengan fungsi yang berbeda di setiap lantainya. Lantai paling bawah difungsikan sebagai ruang penyimpanan bisa dilihat dari ruang khazanah yang berfungsi menyimpan uang. Ruang utama dan kasir terdapat di lantai satu, sedangkan lantai dua dulunya adalah tempat tinggal bagi direksi dan keluarganya.
Setelah lebih dari 100 tahun, bangun dari gedung ini pun tidak banyak berubah. Kalaupun ada perubahan skala nya adalah perubahan-perubahan kecil. Sedangkan di bagian dalam gedung, perubahan juga lebih karena pergeseran fungsi atau peruntukkan menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan kebutuhan.

Gedung Bank Indonesia 13Seperti bangunan bersejarah lainnya, fungsi gedung bank ini naik turun dari awal berdiri sampai dinasionalisasikan Pemerintah Republik Indonesia tahun 1953. Pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 kegiatan operasional bank terhenti dan Nanpo Kaihatsu Ginko difungsikan sebagai bank sirkulasi di Pulau Jawa. Setelah melalui masa buka tutup akibat agresi militer Belanda, KC DJB ini beroperasi kembali pada 22 Maret 1950 hingga dinasionalisasi pada 1953.
Lokasi : Jalan P. Senopati Yogyakarta
Buka : Setiap hari
Tiket : Gratis
Potensi :
– Selain Gedung BI, hingga saat ini di kawasan nol kilometer masih berdiri kokoh 9 dari 10 bangunan heritage yang menjadi cagar budaya wilayah Yogyakarta (kecuali Gedung Senisono yang telah mengalami perombakan besar pada tahun 1990-an). Kesepuluh bangunan tersebut terletak di ruas-ruas jalan yang telah ada sejak penjajahan Belanda. Antara lain Gedung Agung, Eks Senisono, dan Benteng Vredeburg terletak di ruas Jalan A.Yani. Juga Gedung Societet Militer terletak di ruas Jalan Sriwedani (dahulu Lodji Ketjil Koelon), Kantor Pos terletak di Jalan Senopati (dahulu Kampements Straat), Gedung BNI 46, serta Gedung KONI dan Museum Sonobudoyo terletak di Jalan Trikora (dahulu Kadastertr) dan GBIB Marga Mulya yang lebih dikenal sebagai Gereja Ngejaman terletak di Jalan Reksobayan (dahulu Kantoorlan).
– Kantor BI sekarang juga dilengkapi dengan museum dan cyber library kantor Bank Indonesia. Gedung yang paling barat, didesain sebagai ruang pameran, pertunjukan kesenian, pusat informasi, dan perpustakan digital dengan koleksi khusus mengenai perekonomian dan kebanksentralan.

 

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec