08
Aug-2013

Gerobak Gathering

Galeri   /   Tags:

…Klontong..klontong…
“Cak…cak…cak…herr,
Ckk..Ckkk…Ckk…”,
Hiiss..hiss..!!”

Demikianlah suara di masa silam, ketika gerobak sapi melintas di jalanan dusun yang biasanya masih berupa tebaran batu dan kerikil. Suara itu ke luar dari genta yang dikalungkan di leher sapi dan mulut (maaf) bajingan atau bilal yang sedang mengendalikan langkah sapi-sapinya saat menarik gerobak. Di masa itu gerobak dapat dikatakan sebagai alat angkut andalan bagi masyarakat pedesaan, antara lain untuk membawa hasil panen, mengangkut dagangan dari rumah ke pasar atau sebaliknya, dan bermacam keperluan lain.

Jika di tengah jalan anak-anak mengejar dan minta dinaikkan ke atas gerobak, sang bajingan dengan senang hati akan meluluskan permintaan mereka. Gerobak biasanya hanya menggunakan sepasang roda. Posisi as roda berada di tengah badan gerobak sehingga bagian depan dan belakang mirip mainan jungkat-jungkit. Maka dalam kondisi kosong, bagian depan tentu akan lebih tertekan ke bawah karena ayunan tungkai penarik yang dihubungkan ke badan sapi. Tentu saja ini akan membebani sapi-sapi yang menariknya. Maka jika anak-anak dinaikkan tentu disuruh duduk di bagian belakang, sehingga meringankan beban sapi-sapi penariknya. Ada satu lagi tugas tambahan bagi penumpang gerobak, yakni sebagai juru rem. Sesuai aba-aba sang bajingan, juru rem harus menginjak balok kayu di belakang roda sehingga menekan putaran roda dan menghentikan gerobak.

Rangka utama dan dinding gerobak biasanya menggunakan kayu, bisa kayu jati, nangka atau sawo. Atapnya jika tidak menggunakan rapak atau anyaman daun tebu, maka memakai seng. Sedangkan pelindung tampias hujan atau panas matahari di samping kiri dan kanan yang diikatkan pada atap menggunakan anyaman bambu. Inilah salah satu ciri khas menarik dari gerobak. Pelindung dari anyaman bambu ini hampir selalu berbentuk huruf “W” dan diwarnai menggunakan warna-warna yang hampir selalu baku pula yakni hitam, putih, biru, merah dan kuning. Saking bakunya warna itu sampai-sampai orang yang terbiasa melihat gerobak tentu secara reflek imajinasinya akan mengarah pada citraan bentuk gerobak jika melihat kombinasi ke lima warna itu.

Kini gerobak mulai langka dijumpai bahkan di jalanan kampung pun. Fungsinya sebagai alat angkut sudah tergantikan oleh alat angkut yang lebih cepat dan efisien antara lain truk dengan berbagai ukuran. Namun sebenarnya ada yang tetap belum tergantikan namun ikut surut bersama langkanya gerobak, yakni sampah hasil pembakaran tubuh sapi sebagai penggerak utama alat angkut ini. Pembakaran dalam tubuh sapi menghasilkan sampah berupa kotoran yang di Jawa biasa disebut “tlethong”. Karena sifatnya yang sangat organik dan kandungan nutrisi penyubur tanamannya cukup tinggi, justru tlethong ini banyak dibutuhkan oleh para petani sebagai pupuk.Sangat berbeda dengan sampah hasil pembakaran mesin penggerak utama alat angkut masa kini. Bahan dasarnya saja harus menyedot pelumas Bumi. Lalu setelah proses pembakaran, sampahnya berupa gas dengan kandungan unsur-unsur kimia yang lebih banyak dampak merugikan dibanding dampak menguntungkannya bagi kelangsungan hidup penghuni Bumi, akan lebih leluasa menyebar ke mana-mana bersama aliran udara.

Meskipun sudah langka dijumpai, ternyata pemilik gerobak masih cukup banyak. Bahkan di wilayah Kabupaten Sleman dan Klaten, para pemilik gerobak membuat sebuah paguyuban yang dinamai “Pangarso Andhini Karyo”. Sebulan sekali pada pasaran Minggu Wage biasanya mereka menggelar pertemuan di lapangan depan Pasar Hewan Jangkang, Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka datang pagi hari bersama keluarga mengendarai gerobak sapi kebanggaan masing-masing. Pada saat itu biasanya lapangan tersebut bisa dipenuhi oleh sekitar 60 gerobak. Selain bernostalgia dan silaturahim para pemilik gerobak acapkali menggunakan kesempatan tersebut untuk melakukan transaksi jual beli sapi.

Naskah dan Foto : Himawan

1

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec