30
Jul-2015

Islam Nusantara Dalam Lukisan

Diakui atau tidak, ranah seni memberikan peran signifikan dalam penyebaran Islam di Nusantara. Seni menjadi media yang efektif dalam menyampaikan pesan yang terkandung dalam Al Quran.
Kapal sepanjang 7 meter ditumpangi oleh seniman Slamet Gundono (dalam bentuk karya tiga dimensi setinggi 2 meter) berdiri kokoh di Jogja National Museum. Di sisi lain, sosok Slamet Gundono hadir dengan dikelilingi bintang-bintang. Kedua karya tersebut dihadirkan Nasirun dalam Pameran Seni Rupa pra Muktamar Nadhatul Ulama ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015.
Dalam karyanya bertajuk ‘Perahu Samudraku’ Nasirun mencoba menjabarkan dan memberikan pemahaman ajaran thoriqot kepada setiap insan. Bahwa kehidupan di dunia merupakan suatu perjalanan yang muaranya adalah surga. Sehingga ajaran thoriqot ini diyakininya sebagai media perjalanan menuju surga.
Sedang dalam lukisan berjudul “Matja Maning”, Nasirun menempatkan Slamet Gundono dalam kondisi tengah menafsir bintang-bintang jagad raya dengan teks tembang yang berada di langit. Pameran Lukisan Islam Nusantara
Di kacamata Nasirun, Slamet, yang seorang santri juga seniman, merupakan seorang inovator seni rakyat agar tetap relevan dan aktual. Tidak hanya dalam realitas kekinian budaya Jawa akan tetapi dalam konteks seni kontemporer. Nasirun agaknya ingin menegaskan, di Nusantara ini spiritualitas dibagi secara adil serta merata. Tanpa peduli kelas sosial, tanpa memandang modern atau tradisional, semua mendapat tempat yang sama dalam tatanan kosmis yang suci.
Perupa lainnya, Rocka Radipa, Echoes of Glory, bercerita perjalanan Laksamana Cheng Ho dalam membawa ajaran Islam di tanah Jawa. Melalui karyanya yang di buat hampir satu bulan dengan latar belasan referensi ini, Rocka bermaksud berbagi serta bertutur bagaimana Cheng Ho bisa berhasil menyebarkan ajaran Islam.
Dan tidak kalah menariknya adalah karya Agus Kamal dalam gaya kaligrafi modern dengan teknik “realisme kerok” yang khas. Kali ini Agus Kamal memilih menghayati dan mengekspresikan spiritualitasnya secara formal dalam bentuk ekspresi lafadz Ilahi yang bergaya arkais serta siklis. Karya yang hampir serupa, dipamerkan Mustofa Bisri berjudul “Hanya Lafal”. Lukisan tersebut berupa garis-garis vertikal yang puitis, anggun, bersahaja serta modern.
Beberapa karya yang dipamerkan di atas merupakan sebagian karya lukisan yang dipamerkan dengan tema “Matja” Seni Wali-Wali Nusantara . Sebanyak 50 seniman berkolaborasi memamerkan karya mereka selama 4 hari. Dengan pameran ini diharapkan akan membuka pola pikir serta cara pandang kita agar lebih luas dalam memahami Islam, terutama dalam mencerna Islam Nusantara.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec