08
Feb-2013

Jazz Agraris, Jazz Gotong Royong

Galeri   /  

Sabtu, 17 November 2012, sekelompok ibu berkebaya rapi, berpakaian “rumahan” daster, ada pula yang memakai training pack. Sementara beberapa yang lainnya merupakan ibu-ibu muda, berpakaian sesuai jamannya yakni celana jeans dan kaos oblong bergambar. Mereka memasak di dapur sebuah rumah desa yang ukurannya cukup luas sehingga mereka bekerja bersama dengan leluasa. Satu diantaranya, harus bekerja dengan satu tangan karena tangan lainnya digelayuti anak kecil yang tidak mau ditinggal.

“Lha niki nyawisaken ma’em siang kagem mas lan mbak panitia Ngajogjazz ingkang nembe nyambut damel wonten ngajeng, mas. Monggo, menawi kerso sinambi ngedhapi krupukipun.” (Kami mempersiapkan makan siang buat mas dan mbak panitia Ngayogjazz yang sedang bekerja di depan, mas. Silakan, kalau mau mencicipi krupuknya),” ujar seorang ibu sehari sebelum event Ngayogjazz 2012 di Desa Brayut, Pendowoharjo, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta digelar.

Di halaman rumah, kendati gerimis sejak pagi turun dan memincuk rasa enggan, sekelompok anak muda bekerja keras mendirikan 6 panggung rangka besi. Pakaian mereka basah kuyup baik oleh keringat dan air hujan, namun tidak ada yang surut. Pekerjaan harus segera selesai, agar dapat dipergunakan para musisi untuk check sound. Panggung di pekarangan rumah warga itu, diberi nama menggunakan istilah yang sudah akrab dengan keseharian masyarakat setempat yakni Panggung Keprak, Panggung Luku, Panggung Caping, Panggung Pacul, Panggung Lesung dan Panggung Ani-Ani.

Di pinggiran desa, para petani yang lelah sedari pagi bekerja di sawah, nampak santai beristirahat di bawah pohon rindang. Sembari menyedot dalam-dalam rokok kawung, mereka memperhatikan bajak dan kerbau-kerbau merumput dan lapat-lapat mendengarkan alunan irama jazz dari dalam kampung.

Ya.. event belum lagi berlangsung, namun spirit jazz sudah mulai mengalun. Peristiwa jam session antara panitia dan warga sudah terjalin. Mereka bergotong royong membangun event ini, bahkan ibu-ibu di dapur pun turut menciptakan chorus melalui suara peralatan dapur mereka saat bekerja.

Ketika perhelatan Ngayogjazz 2012 berlangsung dihari berikutnya, Desa Brayut berbinar-binar. Desa yang dikelilingi hamparan sawah itu dikunjungi banyak orang, sebagian besar anak muda. Para penjaja makanan dan minuman membuka warung-warung kecil sepanjang tepi jalan menuju panggung. Tak ketinggalan penjual cinderamata dan merchandise di sela-selanya.

Diawali penampilan seni tradisi Jatilan disusul Tari Badui lalu satu persatu musisi maupun group musik tampil di enam panggung yang ada. Ada 30 penampil yang mengisi perhelatan tersebut. Mulai dari nama-nama besar yang sudah akrab di telinga para pengemar musik jazz macam Idang Rasjidi yang sudah melegenda itu, Syaharani, Eramono Soekaryo, Irianti Erningpraja, Benny Likumahuwa, Ketzia Laurentyana, bahkan penampil manca Jen Shyu dari Amerika, Toninho Horta dari Brasil yang merupakan salah satu gitaris terbaik dunia, lantas group-group dari berbagai kota seperti Komunitas Jazz Udu Purwokerto,Solo Jazz Community, Jazz Ngisor Ringin Semarang, Balikpapan Jazz Lovers, Gubuk Jazz Pekanbaru, Entung-Entung Gepik Jazz Salatiga, Gondo & Friends Surabaya, Sound Of Hanamangke Bandung hingga Lampung Jazz Community.

Gotong-royong, itulah kata kuncinya sehingga Ngayogjazz yang merupakan perhelatan setahun sekali ini dapat tetap hadir di Yogyakarta sejak tahun 2007. Ini seperti diakui Djaduk Ferianto, seorang musisi dari Yogyakarta yang menjadi salah satu penggagas perhelatan ini.
“Kalau bukan karena nekat dan dasar kemauan bergotong-royong, barangkali Ngayogjazz hanya berlangsung sekali saja kemudian bubar, karena perhelatan yang sebenarnya dapat dibilang cukup besar ini non profit, tidak ada uang masuk sepeserpun dari penonton. Untuk menyelenggarakannya modal utama kami hanya spirit kebersamaan,” tutur pria gondrong tinggi besar ini.

Pengakuan Djaduk Ferianto ini diamini oleh para penggagas lain seperti Ajie Wartono “Wartajazz”, Hattakawa, Bambang Paningron dan Vindra.
“Kami hanya ingin musik jazz tidak eksklusif, tapi memasyarakat. Bisa dinikmati segala lapisan. Oleh karenanya kami perlu membangun apresiasi dengan cara seperti ini. Masuk dari satu kampung ke kampung lain,” imbuh Ajie Wartono “Wartajazz”.

Maka jadilah Ngayogjazz sebagai perhelatan musik jazz yang agraris. Jazz yang berbalut pupuk organik, jazz beraroma dawet yang menyegarkan dan familiar. Bahkan setiap penyelenggaraannya selalu mengusung tema yang aromanya juga agraris memplesetkan istilah-istilah khas masyarakat petani seperti “Njajazz Desa Milang Kori”, “Nandoer Jazzing Pakarti”, atau thema yang diangkat pada Ngajojazz 2012 yang sangat bercitarasa agraris Ng-Orde baru yakni “Dengan Ngejazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz”.

Sungguh ini adalah perhelatan yang unik dan khas. Boleh jadi sebuah tradisi baru sedang melintasi proses metamorphosa. Ada kejutan apalagi ya, di Ngayogjazz selanjutnya?

1

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec