15
Dec-2015

Pantai Ngobaran 4

Saat kedamaian dan saling menghormati sedikit terkoyak di negeri yang multikulturalisme ini, alangkah sebaiknya sejenak datang ke Pantai Ngobaran, Gunungkidul.

Bukan tanpa maksud datang ke pantai ini, karena banyak yang dipetik. Selain keindahan pantai-pantai di Indonesia umumnya, di Pantai Ngobaran juga kaya pesona budaya. Mulai dari pura, tempat ibadah umat Islam, hingga potensi kuliner terpendam, yaitu landak laut goreng.

Memandang gulungan ombak dari tempat peribadatan yang dibangun tepat di bibir pantai. Di sini, penganut kejawan dan Kejawen berdampingan harmonis dengan pemeluk agama Islam maupun Hindu.

Lokasi Pantai Ngobaran ini bersebelahan dengan Pantai Ngrenehan, yang biasanya cukup pengunjung akan mencari ikan bakarnya dan menikmatinya. Antara Pantai Ngobaran dengan Ngrenehan hanya sekitar dua kilometer.Pantai Ngobaran 5

Saat surut maupun pasang, Pantai Ngobaran merupakan pantai yang cukup eksotik. Saat air surut, hamparan alga (rumput laut) yang berwarna hijau maupun coklat bisa ditonton sepuasnya.

Bersembunyi di antara hamparan alga, puluhan jenis binatang laut. Mulai dari landak laut, bintang laut, hingga golongan kerang-kerangan.

Pura di pinggir Pantai Ngobaran di Gunungkidul ini menegaskan, suasana seperti itu bukan lagi monopoli Pulau Dewat. Pemandangan lautan biru hingga pura untuk ibadah umat Hindu, benar-benar membuat suasana seperti di Bali.

Letak Pantai Ngobaran tepatnya di Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul. Saat akan masuk pantai ini, bisa ditemui gapura dan patung-patung khas Hindu yang mirip dengan di Bali.

Di sekitar Pantai Ngobaran, terasa juga sekali keharmonisan antar umat beragama. Karena ada pura tempat ibadah umat Hindu dan mushola yang berdekatan.

Pantai Ngobaran 3Sayangnya, di pantai ini pengunjung tidak bisa bermain air. Karena pantainya terdiri dari tebing-tebing dan bebatuan karang yang sekilas seperti di Tanah Lot. Jika ingin bermain air atau pasir, pengunjung bisa mengunjungi Pantai Nguyahan. Ingat, pengunjung diminta berhati-hati, karena ombak di pantai ini sangatlah  besar.

Dari bangunan yang paling jelas adalah tempat ibadah semacam pura dengan patung-patung dewa berwarna putih. Tempat peribadatan ini didirikan tahun 2003 untuk memperingati kehadiran Brawijaya V, salah satu keturunan raja Majapahit, di Ngobaran.

Orang yang beribadah di tempat ini kebanyakan adalah penganut kepercayaan Kejawan (bukan Kejawen, Red). Nama “Kejawan,” menurut cerita berasal dari nama salah satu putra Brawijaya V yaitu Bondhan Kejawan.

Pembangun tempat peribadatan ini mengaku keturunan Brawijaya V dan menunjuk salah satu warga menjaga tempat ini. saat berjalan ke arah kiri dari tempat peribadatan, akan ditemui sebuah Joglo yang digunakan untuk tempat peribadatan pengikut Kejawen. Para pengikut Kejawen memilih tempat ini untuk melakukan sembahyangan. Baik Kejawen maupun Kejawan, saling berdampingan dengan baik dengan masyarakat yang memeluk agama Islam dan Hindu.

Di dekat Joglo, akan ditemukan sebuah kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Tanaman tersebut dipagari kayu berwarna abu-abu. Ini merupakan titik di mana ranting Pantai Ngobaran 2kering ini tumbuh dan dipercaya sebagai tempat Brawijaya V berpura-pura membakar diri.

Langkah itu dilakukan karena Brawijaya V tidak mau berperang melawan anaknya sendiri, yaitu Raden Patah yang kemudian menjadi Raja I Demak.

Memang kebenaran cerita soal Brawijaya V ini banyak diragukan banyak sejarahwan. Sebabnya, jika Raden Patah menyerang Brawijaya V, akan memberi kesan seolah-olah Islam disebarkan dengan cara kekerasan.

Banyak sejarahwan beranggapan, bukti sejarah yang ada tak cukup kuat untuk menyatakan Raden Patah melakukan penyerangan.

Beberapa meter dari kotak tempat ranting kering tumbuh, ada pura sebagai tempat peribadatan umat Hindu. Tak jelas kapan berdirinya pura tersebut.

Di bagian depan tempat ranting tumbuh terdapat sebuah mushala berukuran kurang lebih 3×4 meter. Bangunan masjid ini sederhana, karena lantainya pun berupa pasir. Hanya yang mungkin membuat pengunjung heran, kebanyakan mushala di Indonesia menghadap ke Barat, sedangkan bangunan di sini menghadap ke Selatan. Bagian depan tempat imam memimpin sholat terbuka, sehingga langsung bisa melihat lautan.

Pantai Ngobaran 1Penduduk setempat mengatakan, mereka juga heran dengan bangunan tersebut. Apalagi mushala ini dibangun salah satu kyai terkenal yang tinggal di Panggang, Gunung Kidul.

Sebagai petunjuk bagi yang akan sholat, penduduk setempat memberi tanda di tembok dengan pensil merah, arah kiblat yang sebenarnya.

Masyarakat setempat selalu memanen rumput laut untuk dijual pada tengkulak pada pagi hari. Mereka biasanya menjual rumput laut dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per kilogram.

Di kala sore datang, sebagian warga lain mencari landak laut untuk dijadikan makanan malam. Untuk bisa dimakan, landak laut dibersihan durinya hingga rata dan binatang laut ini dipecah dengan sabit.

Kemudian, daging yang ada di bagian dalam landak laut dicongkel. Biasanya, warga mencari landak hanya berbekal ember, saringan kelapa, sabit, dan topi kepala untuk menghindari panas.

Landak laut bisa dinikmati hanya dengan diberi bumbu berupa garam dan cabe, kemudian digoreng. Menurut penduduk, daging landak laut cukup kenyal dan lezat. Hanya tak banyak penduduk yang menjual makanan yang eksotik itu.

Koordinat:

S8°7’9″ E110°30’16”

Lokasi:

  • Pantai Ngobaran berada di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul.
  • Jaraknya sekitar 65 kilometer dari Kota Yogyakarta dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi dari Yogyakarta.
  • Untuk ke lokasi Pantai Ngobaran tidak sulit. Dari Yogyakarta, telusuri jalan menuju Wonosari hingga Piyungan. Di sini akan dijumpai jalan menanjak dan berkelok-kelok, hingga melewati Tikungan Bokong Semar, Hargodumilah, Patuk, Pantai Ngobaran 6Tikungan Irung Petruk, Sambi Pitu, Hutan Tleseh, Lapangan Udara Gading dan Pertigaan Gading.
  • Dari sini, belok kanan ke arah Paliyan ke Selatan menuju Trowono hingga Pusdiklat TNI AD di Hutan Sodong.
  • Dari Hutan Sodong ke Pasar Trowono, terus ke Kelurahan Kanigoro dan akan ketemui pertigaan. Kalau ke kiri, menuju Pantai Ngrenehan dan jalur kanan menuju Pantai Ngobaran.
  • Disarankan untuk menggunakan kendaraan sendiri, baik sepeda motor maupun mobil. Angkutan umum walau ada, sangat jarang dan hanya kendaraan bak terbuka. Inipun hanya sampai desa terakhir, tidak sampai lokasi Pantai Ngobaran.

Potensi:

  • Ada beberapa warung yang sederhana, lumayan untuk mengganjal perut lapar.
  • Kuliner sederhana adalah masakan Landak laut. Tentu saja harus request pada penduduk setempat.

Fasilitas:

Tiket masuk Pantai Ngobaran cukup murah, Rp 3 ribu per orang dengan fasilitas yang masih seadanya. Yaitu, kamar mandi, tempat parkir, mushola, dan warung makan.

[notice type=”red”]Tips:

  • Sebaiknya berbarengan dengan upacara Melasti, sehingga bisa mengetahui prosesi ritual keagamaan.
  • Memilih baju yang tepat untuk ke pantai dan jangan lupa membawa topi.

0

 likes / One comment
Share this post:
  • Wisataku says:

    Pantai ngobaran bertolak belakang dengan kebudayaan masyarakat di Gunungkidul. pantai ngobaran seperti kebanyakan pantai yang terdapat di pulau Bali.keren dan wajib di kunjungi

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    code

    Archives

    > <
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec