23
Sep-2015

Kemacetan Menjadi Salah Satu Pemicu Keengganan Wisatawan

Pengerjaan infrastruktur jalan yang seringkali hanya bongkar pasang mengakibatkan kemacetan di sana sini sekaligus membuat wisatawan enggan berkunjung.

Maksud hati ingin mengurai kemacetan, kenyataan di lapangan yang terjadi justru memindahkan muara kemacetan ke tempat lain. Parahnya lagi, pengerjaan jalan yang hanya bongkar pasang juga menjadi pemicu terjadi kemacetan. Pembangunan tersebut sebenarnya hanya ‘semu’. Dan dampak dari kemacetan tersebut mengakibatkan keengganan wisatawan berkunjung ke Yogyakarta.

“Banyak calon wisatawan yang membatalkan berkunjung ke Yogyakarta karena melihat kondisi beberapa ruas jalan di Yogyakarta yang macet. Dengan ada kemacetan wisatawan merasa kurang nyaman” ungkap Prof. Marsono, SU, ketua Prodi Pariwisata Fakultas Ilmu BUdaya UGM, dalam seminar Pengelolaan Bisnis Pariwisata dan Perhotelan Dalam Situasi Persaingan Global, yang digelar Akademi Pariwisata (Akpar) Buana Wisata Yogyakarta.

Menurut Marsono, kemacetan membuat ketidaknyamanan wisatawan yang tengah menikmati keramahan suatu daerah. Karena adanya kemacetan juga akan menambahkan beaya pengeluaran mereka. Apalagi Yogyakarta saat ini bukan jalur penerbangan langsung, sehingga wisatawan yang hendak ke Yogyakarta pasti akan mempertimbangkan budget yang harus dikeluarkan.

“Jika kita membandingkan dengan Thailand, jalan-jalan di sana sangat mendukung kelancaran wisatawan. Bahkan, Singapura yang merupakan negara kecil pun mampu memberi kenyamanan akses transportasi setiap wisatawan. Oleh karenanya kunjungan wisatawan di ke dua negara selalu tinggi,” tambahnya.

Sedangkan Willy dari Asita DIY menyoroti tidak adanya jalur penerbangan langsung juga menjadi factor keengganan wisatawan berkunjung ke Yogyakarta. Karena penerbangan dua kali bisa dipastikan budget yang dikeluarkan akan semakin besar. Willy juga mengatakan dengan penerbangan dua kali, wisatawan akan lebih memilih ke Eropa daripada ke Yogyakarta. Dan tujuan wisatanya ke Indonesia mereka pasti akan memilih Bali yang memiliki penerbanngan langsung dan biayanya lebih murah. Oleh karenanya bandara juga menjadi kata kunci dalam menggaet wisatawan.

Sementara itu Ketua Dewan Pembina Akademi Pariwisata ( Akpar) Buana Wisata Yogyakarta, Dr I Ketut Putra Suarthana MM mengatakan Kementrian Pariwisata pada tahun 2019 menarget jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 20 juta. Sementara pada tahun lalu jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia mencapai 9,7 juta. Dan menghadapi diberlakukannnya MEA pada akhir 2015 menuntut pelaku wisata harus mampu bekerja secara professional.

Lebih jauh Ketut Putra Suarthana menjelaskan pelaku wisata juga harus mempersiapkan tenaga kerja di bidang pariwisata yang siap berkompetisi dengan pelaku wisata asing. Oleh karena itu diharapkan semua pelaku wisata nantinya harus yang memiliki sertifikat kompetensi. Dan sebanyak 17 ribu tenaga kerja pariwisata hingga akhir 2018 nantinya sudah memegang sertifikat ini.

Desa Wisata Kurangi Kemiskinan                                                          

Ketut Putra Suarthana menambahkan untuk pengembangan pariwisata,di Indonesia dan utamanya di DIY, perlu dikembangkan desa-desa wisata. Karena dengan mengembangkan desa wisata nantinya akan dapat mengurangi penggangguran hingga pada akhirnya dapat menekan angka kemiskinan yang terjadi di desa-desa. Karena selama ini kantong kemiskinan masih terjadi di desa.

“Pemerintah telah mendorong pengembangan desa wisata dengan menyediakan dana sebesar Rp 123 miliar. Harapannya, desa akan berkembang, tidak penggangguran dan pembangunan dapat berjalan merata. Dengan pengembangan desa wisata ini menjadi salah satu jalan untuk mengurai angka kemiskinan” pungkasnya.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec