07
Jun-2013

Lengger Topeng

Galeri   /  

Meskipun kekuatan sakralnya masih diyakini oleh masyarakat yang melingkungi keberadaannya, namun sudah jarang ditemui pertunjukan seni lengger topeng. Padahal di era 60-70an, seni pertunjukan ini kerap menjadi salah satu bagian dari rangkaian acara hajatan, baik yang diselenggarakan lembaga, kelompok maupun perseorangan di Dusun Nglinggo, Kelurahan Pagerharjo, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo, yang berada di kawasan pegunungan Menoreh. Orang yang ingin menonton pun dengan mudah bisa mengetahui keberadaan pertunjukan Lengger Topeng melalui arah suara gamelan yang lapat-lapat melayang bersama angin.

Lengger Topeng biasanya digelar di halaman rumah warga. Jika pertunjukannya malam hari, penerangan cukup menggunakan beberapa obor dan lampu petromaks. Pada masa itu seluruh penari maupun pengrawit dilakukan oleh kaum pria karena masih kuatnya pandangan tabu bagi kaum perempuan melakukan kegiatan di luar rumah.

Mengawali pertunjukan, sesepuh kelompok lengger terlebih dahulu memanjatkan doa keselamatan dengan membakar kemenyan di tengah arena pertunjukan. Selanjutnya para penari yang mengenakan topeng sesuai karakter yang dibawakan mulai beraksi menghibur penonton. Sementara di belakangnya para penyanyi diiringi gamelan melantunkan syair-syair sanepo berisi petuah keutamaan hidup, yang merupakan bentuk sholawat namun sudah diaplikasikan ke dalam bahasa Jawa.

Asal mula seni pertunjukan ini sangat erat kaitannya dengan syiar agama Islam. Konon sekitar tahun 1900, seorang penyebar agama Islam di kawasan perbukitan Menoreh, yakni Kyai Nuruddin, sebelum berangkat naik haji memberi pesan pada warga untuk mendirikan langgar (surau). Namun karena salah dengar, warga yang diberi pesan justru mendirikan kelompok seni Lengger. Dari kesalahan mengartikan pesan inilah kemudian lahir generasi pertama kelompok seni lengger. Sedangkan generasi ke-dua mulai muncul sekitar 1940. Hingga kini sisa-sisa generasi ke-dua Lengger Topeng masih aktif melestarikan warisan seni rakyat ini, sementara generasi ke-tiga yang sebagian besar adalah anak-anak muda daerah Nglinggo juga mulai muncul dengan membawa pembaruan di sana-sini, seperti hadirnya penari dan pengrawit perempuan, tata busana yang lebih semarak serta masuknya unsur gerak tarian yang lebih mengacu pada kekinian.

Selain syair-syair yang merupakan sholawat, beberapa instrumen musik untuk mengiringi pertunjukannya juga mengambil nama-nama yang berkaitan dengan syiar Islam. Gong petung mengambil nama Sunan Petung bonang yang berarti Sunan Bonang serta angklung dari bambu yang dinamai ampel untuk mengingatkan pada nama Sunan Ampel.

Kalaupun saat ini masih ada yang nanggap Lengger Topeng biasanya dilakukan oleh warga angkatan tua sebagai pelepas nadar. Disinilah kekuatan sakral Lengger Topeng masih dipercaya oleh masyarakat kawasan Pegunungan Menoreh pada umumnya. Bernadar akan mementaskan Lengger Topeng diyakini dapat mengusir kekuatan buruk seperti sakit, menderita kerugian dan sebagainya.

Naskah & Foto: Himawan

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec