15
Jun-2015

Lezat dan Gurihnya Tak Sedekil Namanya

Belanja   /   Tags: , , , ,
Mie Lethek

Kemunculan mie instan pernah membuatnya kelimpungan. Tapi Mie Letheg segera bangkit

Semangat gotong-royong dan jalan untuk membuka akses sosial menjadi alasan untuk tetap bertahan hingga kini. Adakah sensasi menikmati hidangan mie? Datanglah ke Dusun Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul dan segera dapatkan Mie Letheg. Orang-orang di sekitar sana sudah sangat hafal dan akrab dengan nama Mie Letheg. Bahkan jika bingung mencari tahu tempatnya, Anda bisa bertanya dengan orang-orang mulai dari Jogja hingga sepanjang jalan menuju pabriknya. Mereka akan dengan senang hati menunjukkan arahnya.

Mie lethek“Adonan tepung singkong yang sudah halus usai dikukus dalam oven. Mie Letheg memang lain dari yang lain. Mie ini masuk dalam keluarga rumpun bihun. Bedanya Mie Letheg hanya menggunakan tepung tapioka, tepung gaplek (cassava), dan air. Tanpa pewarna, tanpa pemutih, tanpa perasa, dan tanpa pengawet. Jika sudah dimasak mie ini akan mengencang, kenyal, dan sulur-sulur mie terpisah satu dengan lainnya. Ukurannya juga lebih tebal dan tetap menggulung, tidak pipih. Jika sudah dibumbui rasanya semakin mantap berpadu dengan kekenyalannya. Dan tentu saja warna kecokelatan agak kekuningan itu menjadi ciri paling khas mie ini. “Sekarang warnanya sudah tidak terlalu pekat, lebih letheg dulu. Orang Jakarta bilang, dekil,” ujar Yasir Ferry Ismatrada, pewaris sekaligus pengelola Mie Letheg.

Ke luar dari cetakan, mie yang masih basah ditiriskan sebelum dijemur. Cerita Mie Letheg tak hanya berhenti di soal rasa dan bentuk. Perjalanannya menyimpan seribu satu cerita dan mewarnai sebuah metamorfosa sejarah artefak bernama pabrik mie. Tersebutlah Umar bin Mubarak bin Bisir Nahdi seorang asal Hadramaut, Yaman yang berkelana hingga ke Yogyakarta. Ke-arab-annya membuatnya hidup di Kauman, sebuah kampung santri dan golongan kaum abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di situ ia berkenalan dengan Kyai Haji Bakir Saleh, seorang petinggi Muhammadiyah. Keduanya menjadi sahabat dan karib dalam setiap langkah terutama dalam kegiatan dakwah dan kerja sosial.Mie lethek

Ia lalu mengutarakan keinginannya untuk tinggal dan menetap di Yogyakarta. Tapi hanya mau tinggal di daerah yang masih jauh dari dakwah. Singkat cerita ia memilih sebuah dusun yang jauh dari kota. Tentu semua langkah itu, termasuk saat memilih tempat tinggal, selalu didukung oleh KH Bakir Saleh, sebagai sahabat dan juga orang yang tahu tentang seluk-beluk daerah di Yogyakarta dan sekitarnya. Belakangan keberadaannya di sini menjadi bagian dari sejarah komunitas Arab pertama-tama di Bantul.

Yang ia lakukan pertama-tama adalah dakwah dan hidup sosial dalam lingkungan pedesaan. Di situ pula ia mulai membuat mie. Ia sendiri yang membuatnya. Setiap kali ada acara hajatan, entah kawinan, sunatan, atau rembug warga, maka ia selalu datang dengan membawa sekeranjang mie. Mie itu ia berikan kepada tuan rumah untuk dimasak dan dinikmati bersama-sama. “Melalui mie itu abah saya berdakwah,” terang Ferry.

Mie lethekMenjemur Mie. Karena menggunakan panas matahari langsung, maka pekerja harus sigap membaca cuaca. Jika terkena hujan maka proses pengeringan gagal. Keseriusan Bah Umar, sapaan akrab Umar bin Mubarak, dalam memproduksi mie akhirnya benar-benar diwujudkan dengan membuat pabrik mie di tahun 1940-an. Tenaga-tenaga pekerja diambil dari warga sekitar. Di daerah Srandakan dan sekitarnya muncul istilah di era 70-80-an kalau kerja di pabrik berarti kerja di Pabrik Mie Letheg. Dan belum dinamakan kerja kalau belum merasakan kerja di pabrik. Tapi keemasan Mie Letheg sempat terguncang dan limbung setelah munculnya mie instan dan bihun. Tiga pabriknya: 2 di Bendo dan 1 di Badegan, semuanya di Bantul, kalang kabut. Satu-satunya yang sampai kini tetap bertahan hanya yang ada di Bendo. “Tutupnya itu karena saudara-saudara saya juga sudah punya pekerjaan lain,” kata Ferry.

Mie yang siap dipasarkan harus ditimbang terlebih dahulu untuk menyamakan bobot tiap kemasannya. Produksi Mie Letheg hingga kini masih menggunakan teknologi tradisional. Pertama-tama gaplek direndam sampai 3 hari. Setelah itu, dioven dengan pengapian dari kayu bakar. Lalu dilembutkan dengan cara digilas. Penggilasannya dengan sebongkah batu seberat 1 ton yang dihela seekor sapi. Kenapa sapi dan bukan mesin? Pernah dicoba dengan mesin dan mienya pecah karena pencampurannya kurang maksimal. Walhasil si sapi tidak cuma satu. Ada 2 ekor yang saling bergantian untuk membantu melumatkan gaplek-gaplek itu.Mie lethek

Bahkan untuk mengepres mie, dilakukan dengan tenaga manusia yang kalau pas produksi seperti sebuah babak akrobat. Hanya saja, meskipun alat-alatnya masih ada dan masih bisa dioperasikan, sekarang sudah jarang digunakan sejak ada mesin pres. Itu pun hasil kreasi dari keluarga besar Bah Umar. Dalam sehari mampu memproduksi sampai 1 ton mie dengan waktu produksi mulai jam 08.00 sampai siang hari waktu mie siap dijemur.

Hasil kreasi Mie Letheg untuk menu pun bisa beragam. Mulai dari mie goreng, mie rebus, magelangan sampai konon kabarnya bisa untuk spagheti. “Secara reguler mie kami juga dipesan oleh Kementerian Pertanian dan kabarnya juga sudah menjadi salah satu menu di Istana Kepresidenan,” jelas Ferry.

Agar tidak ada duanya, Mie Letheg diberi nama paten: Mie Bendo Asli Cap Garuda. Kini, Ferry juga membuka studi tour bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih dekat dengan Mie Letheg. Mulai dari cerita sampai melihat langsung sistem produksi.

Mie lethek 6Lokasi

Dusun Bendo RT 101, Desa Trimurti
Kecamatan Srandakan, Bantul
Telp. (0274) 7424219

Transportasi

Lebih kurang 20 kilometer arah selatan Kota Yogyakarta. Bisa ditempuh dengan menggunakan angkutan umum jalur Jogja-Srandakan. Turun sebelum tikungan Pasar Mangiran. Dari situ bisa menggunakan ojek atau jalan kaki mengikuti arah ke kanan (utara). Ikuti jalan itu sampai berakhir di Pabrik Mie Letheg.

Harga

Setiap bungkus plastik seberat 5 kilogram dengan harga Rp 43.000. Saat ini persebaran Mie Letheg ada di Pasar Beringharjo dan Pasar Prawirotaman. Harga eceran di kedua pasar tersebut biasanya Rp 44.000 – Rp 45.000.

Catatan:
Jika Anda ingin berkunjung ke pabrik dan melihat langsung produksi baik perorangan maupun kelompok harap membuat janji terlebih dahulu.

Siapkan kamera untuk dokumentasi Anda saat berada di situ. Selain proses produksi, rasa-rasanya bangunan dan properti yang ada di situ sudah layak masuk dalam khasanah heritage yang perlu dijaga. Karena pernah pula bangunan ini menjadi saksi bisu untuk menginap dan mengatur strategi perang para gerilyawan zaman pendudukan Belanda saat Agresi Belanda II di Ibu Kota RI Yogyakarta.

1

 likes / One comment
Share this post:
  • dedi says:

    mohon izin share

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    *

    You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

    Archives

    > <
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
    Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec