17
Sep-2014

Ketandan: Penggal Jejak Tionghoa di Jogja

Gemerlap Malioboro, nyaris mengikis jejak sejarah kebudayaan Tionghoa. Wajah Malioboro yang lebih nampak sekarang adalah sebagai pusat wisata belanja. Padahal di sekitar kawasan inilah kota budaya Pecinan berada.

Persisnya adalah di ujung selatan Jalan Malioboro yakni di sepanjang kanan dan kiri Jalan A Yani (dulunya bernama Jalan Pecinan). Menilik pada sejarahnya, berkembangnya kampung Pecinan agaknya memang tak lepas dari keberadaan Pasar Bringharjo yang menjadi pasar tradisional tertua sekaligus terbesar di Jogja.

kampung-pecinan5Orang-orang China yang dikenal sebagai pedagang-pedagang andal, dulunya banyak yang bertempat tinggal dan beraktivitas di sekitar pasar tersebut. Kawasan ini menjadi saksi sejarah dimulainya kesuksesan pedagang China di Yogyakarta. Sampai sekarang, bila datang ke kawasan ini, masih banyak dijumpai toko dan kios bersejarah yang berusia puluhan tahun dengan corak bangunan-bangunan tua.

Untuk menikmati kota tua Pecinan ini, Anda bisa memulainya dari bagian samping kampung itu, tepatnya di jalan sebelah Toko Batik Terang Bulan. Sampai di gang pertama, Anda bisa berbelok ke kiri untuk menemukan tempat pengobatan Cina yang cukup legendaris. Di tempat itulah dulu seorang tabib ampuh mengobati penyakit patah tulang, hanya bermodalkan bubuk campuran tanaman obat yang ditempelkan pada permukaan kulit bagian tubuh yang tulangnya patah.

Keluar dari gang lalu menuju arah timur, bisa ditemukan berbagai kios barang dan jasa dengan dinding umumnya berwarna putih. Salah satunya adalah kios permak gigi tradisional China yang melayani pemutihan gigi, penambahan aksesoris gigi untuk mempercantiknya hingga bermacam perawatan untuk menjadikannya semakin menawan. Tidak susah menemukannya, karena ada gambar gigi cukup besar di jendela rumahnya.

Anda juga bisa menemukan kios-kios yang menjual masakan China seperti bakmi, cap cay, kwe tiau dan sebagainya. Kios-kios lain hingga kini bertahan dengan barang dagangan bahan-bahan kue, bakal pakaian, aksesoris dan sembako.

kampung-pecinan1Dari toko Terang Bulan kearah Barat menyusuri Jalan Pajeksan, Anda akan menemui kios-kios serupa. Namun yang khas, di ujung jalan itu Anda akan menemui rumah yang digunakan sebagai tempat berkumpul anggota Perhimpunan Fu Ching. Perhimpunan itu beranggotakan warga Indonesia keturunan Tionghoa yang tinggal atau berdagang di wilayah itu. Pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada hari raya Imlek, anggota perhimpunan itu menggelar acara kesenian tradisional China.

Ke arah selatan dari Batik Terang Bulan, terdapat toko roti bernama “Djoen”. Sejak hampir seratus tahun lalu, toko bernama lengkap “Perusahaan Roti dan Kuwe Djoen” itu telah menjadi kebanggaan masyarakat Jogja. Ketuaan usianya bisa dilihat jika Anda berdiri di seberang jalannya, ditandai dengan nama toko yang tertulis di temboknya, sebuah ciri toko-toko di kawasan itu pada masa lalu. Kini, produknya telah menyesuaikan dengan selera pasar dengan mempertahankan beberapa yang khas, misalnya kue bantal, yaitu roti tawar bertabur wijen yang berbentuk pipih oval.

kampung-pecinan2Sampai di kawasan Lor Pasar atau utara pasar Bringharjo, Anda bisa menemui kios-kios tradisional yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari elektronik, peralatan menjahit dan aksesoris pakaian, peralatan memasak hingga perhiasan emas. Kawasan ini sejak lama telah dikenal masyarakat Jogja sebagai salah satu tempat mendapatkan berbagai barang kebutuhan dengan harga murah. Selain menjual barang-barang baru, beberapa kios juga menjual barang bekas.

Di kawasan ini, juga bisa ditemui toko obat legendaris Toko Obat Bah Gemuk. Di toko tersebut dijajakan aneka macam obat-obatan tradisional China yang kemanjurannya telah dikenal di seluruh penjuru dunia. Di kawasan Kampung Ketandan ini kita bisa melihat arsitektur Tionghoa yang identik dengan rumah tingkat dengan berbagai ornamen Tionghoa. Rumah-rumah tersebut kebanyakan dibangun memanjang ke belakang. Rumah-rumah ini sekaligus digunakan sebagai toko. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pedagang emas dan permata.

kampung-pecinan4Nah, saat perayaan Imlek kawasan ini juga menjadi pusat perayaan. Sampai saat ini tercatat sudah 6 kali perayaan Imlek berupa Pekan Budaya Tionghoa digelar. Festival yang digelar oleh Pemerintah Kota Yogyakarta ini digelar sebagai bentuk upaya mempertahankan identitas Kampung Pecinan Ketandan.

Meski kini citra kawasan Pecinan ini sedikit memudar, namun adanya beberapa kios yang hingga kini masih bertahan menjadikan kawasan ini masih tetap menarik untuk dikunjungi. Bahkan Pemerintah Kota Jogja telah menetapkan kawasan ini sebagai kawasan Pecinan yang akan dikembangkan terus menerus. Bangunan-bangunan di kawasan ini akan dibuat berarsitektur Tionghoa, sementara bangunan berarsitektur Tionghoa yang masih ada akan tetap dipertahankan.

Lokasi

Kampung-kampung di sebelah kiri dan kanan Jalan A Yani. Meliputi Pajeksan, Ketandan dan Beskalan

Transportasi

Lokasi ini sangat mudah dijangkau oleh transportasi umum. Karena lokasinya berada di sekitar Kawasan Malioboro, yang menjadi pusat kota.

Tips
Ingin menikmati dan merasakan atmosfer China di kampung ini, maka ada baiknya Anda melewatkjan waktu secara cukup. Siang hari anda bisa melihat suasana kampung berikut hiruk pikuk kegiatan niaganya. Sedangkan malam hari bisa berburu kuliner khas pecinan. Suasana Pecinan belakangan memang memudar seiring dengan gempuran budaya modern. Hal inilah yang mendorong berbagai pihak mengupayakan langkah-langkah pelestarian. Saat ke kawasan ini, jangan lupa menyiapkan kamera untuk mengabadikan. Banyak sekali sudut bangunan yang menarik untuk latar berfoto ria.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec