08
Oct-2013

Membangun Sebuah Pertunjukan Teater

Galeri   /   Tags:

“..Untuk kelompok anak buah Waska, hari ini saya benar-benar kecewa dengan latihan kalian! Kalian berada di atas panggung tanpa membawa alasan yang kuat. Masing-masing asyik dengan dirinya sendiri, tidak fokus! Saat lawan main berdialog, tidak ada yang merespons dialognya dengan gerak tubuh yang sesuai. Malahan ada yang sibuk menarik-narik rambutnya sendiri, membersihkan kuku jari tangan pada kesempatan yang salah…

Saya minta ada penambahan jam latihan bagi kelompok ini, silakan kompromikan waktunya dengan koordinator latihan. Ingat! Hari ini saya benar-benar kecewa pada kalian!”

Demikian penggalan kata-kata yang meluncur dari mulut Sutradara Puntung CM Pudjadi pada suatu ketika berlangsung latihan teater yang diikuti para anggota Gabungan Teaterawan Yogyakarta di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta, saat mereka mempersiapkan pementasan naskah berjudul Madekur dan Tarkeni, satu dari serangkaian naskah-naskah karya Arifin C Noer.

Rangkaian kata-kata dari mulut Puntung CM Pudjadi itu selain maknanya tidak mengenakkan hati ketika didengarkan, cara mengucapkannya juga dalam kondisi yang tidak mengenakkan ketika dilihat secara visual. Muka sang sutradara itu merah dan matanya jelas menyorotkan kemarahan pada setiap pemain yang ada di depannya. Sementara para pemain pada tertunduk, hanya sesekali membalas tatap ke arah sang sutradara dengan sorot mata lemah.

“Mas Puntung, setelah melepaskan genggaman tangan Tarkeni sebaiknya saya bergerak beberapa langkah ke arah ujung depan panggung lalu menoleh, ya? Canggung saya kalau hanya berdiri diam”, demikian pinta Bambang KSR pemeran Madekur pada sang sutradara dalam kesempatan latihan yang lain.

Sang sutradara diam beberapa saat. Ia harus mempertimbangkan masak-masak, dari berbagai alasan, permintaan pemainnya. Belum menemukan jawaban, lalu ia mendekati Asisten Sutradara Anes Prabu. Berdiskusi sejenak, barulah ia menyampaikan jawabannya,

”Oke, Mbang. Kamu bergerak ke ujung depan panggung, tapi cukup dua langkah. Pada adegan ini kamu harus banyak menekan ekspresi seperti ini, karena justru pelepasannya ada di adegan berikutnya.”

Maka Sekitar 60 orang pemain benar-benar memanfaatkan 6 bulan persiapan dengan 3 kali latihan perminggunya untuk membangun pertunjukan teater berjudul Madekur danTarkeni ini. Kisah sepasang kekasih yang satu perprofesi sebagai pencopet dan satunya pelacur, yang bermimpi menundukkan kota metropolitan, namun kenyataannya mereka tetap menjadi yang kalah. Madekur mati karena TBC, sementara Tarkeni mati karena penyakit kelamin siphilis. Yang tersisa dari mereka tinggal dua lembar daun kering yang berangsur-angsur hancur menjadi debu.

Membangun sebuah pertunjukan teater memang sebuah kegiatan komunal yang memerlukan kompromi-kompromi agar keutuhannya tidak lepas. Kompromi tidak hanya antara sutradara dengan pemain, namun juga sutradara dengan penanggungjawab musik pengiring, penanggungjawab Artistik dan penata gerak. Untuk itulah Maka Puntung CM Pudjadi pun harus berdiskusi berhari-hari dengan penata musik Pardiman Djoyonegoro dan penata gerak Anter. Sementara Giri selaku penanggungjawab artistik selalu mencermati perkembangan latihan sehingga akhirnya menemukan pola kostum, aksesoris dan tata panggung yang tepat. Mereka perlu membangun kesepakatan-kesepakatan sehingga karya mereka semua saat pementasan akan menuju ke arah yang sama, keutuhan pertunjukan Madekur dan Tarkeni.

Naskah & foto: Himawan

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec