05
Jun-2015

Menutup Wajah, Mengintai Mata

Topeng Bobung

Jika lakon Panji kerap dimainkan berarti akan ada banyak pesanan. Namun jika tidak, tak mengapa sebab topeng hiasan bolehlah dijajakan.

Sejak kapan topeng ada di Nusantara? Data paling akurat menyebut zaman pemerintahan kerajaan Majapahit. Prasasti merupakan salah satu data yang bisa dikumpulkan lalu dilihat dan dijadikan sumber data. Tapi, sejak kapan sebuah daerah memulai menjadi sentra perajin topeng? Sejak turun-temurun, hanya itu yang akurat.

topeng bobungSetidaknya pendapat seperti itu akan dijumpai di Desa Bobung, Putat, Gunungkidul. Hampir seluruh warganya yang menjadi perajin topeng tidak tahu secara persis kapan nenek moyangnya memulai menjadi perajin topeng. Hanya saja, Bobung sampai kini dikenal banyak orang sebagai pengusaha seni kerajinan dan para seniman tari. Mereka memesan untuk keperluan pentas tari, koleksi, dan buah tangan.

Terletak di daerah perbukitan, sehingga daerah ini jauh dari keramaian. Jauh pula dari pusat kota. Tapi, asal ngomong Bobung, orang-orang di sana sudah akrab dan lalu menunjukkan arah ke satu desa yang kalau menyusuri satu-satunya jalan menuju desa tersebut akan berujung jalan buntu. Angin yang bertiup sepoi akan menyejukkan petualangan kecil yang terasa mulai di jalanan terjal, berliku, dan beraspal rusak itu.

topeng bobungSeperti tak ada zaman keemasan untuk topeng, sebab hampir sejak dulu sampai kini pesanan topeng selalu mengalir. Apalagi di tahun-tahun lalu masih banyak kesenian tradisional yang marak dipentaskan di daerah-daerah. Masa di mana tingkah laku masyarakat urban belum mempengaruhi kebudayaan.

Lakon Panji tentu sangat dinantikan dari pentas topeng ini. Begitu pula bagi warga Bobung. Bila Panji sering dipentaskan, maka logika pasar segera menyahut: pesanan dan layanan order akan terus mengalir pula. Padahal untuk setiap kali pentas, minimal tak kurang 32 topeng harus tersedia untuk setiap kali episode. Soalnya, setiap lakon punya wajah sendiri-sendiri ketika dalam situasi tertentu.

topeng bobungMisalnya wajah Panji ketika di dalam istana berbeda ketika dia harus pergi berburu ke hutan. Wajah yang di istana terlihat resmi, mata tertunduk, dan menyiratkan pendiam. Sementara yang di hutan lebih gagah, tegas, dan gentle. “Itu baru satu episode, kalau mau lengkap, ya, sekitar 70-an topeng,” jelas Ismadi, perajin topeng

Kini produksi itu memang tidak seramai dulu, saat-saat di mana lakon Panji sangat akrab di telinga ketimbang lakon-lakon Batman, Superman, atau Spiderman. Eh, tapi tak mengapa, sebab Bobung sendiri tak ubahnya bagian dari zaman pahlawan-pahlawan bertopeng itu. Keluwesan tangan perajin Bobung pun terampil membuat topeng kreasi baru. Paling mutakhir adalah topeng batik.

topeng bobungYa, itu kreativitas lain sesuai permintaan pasar tadi. Kalau lakon Kediri – Jenggala itu kini jarang tampil, tak apalah topeng batik dan topeng-topeng kreasi lainnya yang diproduksi. Toh, banyak juga yang kini meliriknya sebagai buah tangan. Hiasan dinding pun akan tampak manis dan lebih punya kesan hidup bila si topeng menyandar. Apalagi kalau dinding itu diterangi dengan efek sorot lampu, pasti lebih magis.. atau malah jadi horor, ya?

Harga ternyata cukup terjangkau. Asal belanjanya di Bobung masih bisa dijangkau saku seukuran kantong mahasiswa. Karena harga toko akan naik jadi 70%. Berbeda dengan harga topeng lakon Panji tadi. Kalau ingin topeng Bancak, Doyok, atau Dewi Sekartaji, siap-siap saja merogoh kocek 1,5 juta – 2 juta. “Harganya memang segitu, karena topeng lakon Panji semuanya dibuat dengan kualitas nomer satu,” terang Ismadi, yang kini ikut menapaki jejak ayahnya, Sujiman, sebagai salah satu empu topeng.topeng bobung

Cuma, bahan mentah sekarang sulit didapat. Kayu terbelo puso untuk bahan topeng klasik dan pule serta sengon untuk topeng batik, kini harus didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perambahan hutan dan kasus illegal logging ikut-ikutan menyusutkan pendapatan perajin topeng ini.

Wah, jadi ingat cerita tadi. Kalau saja melakonkan satu episode Panji harus membutuhkan 32 sampai 70 topeng, maka berapa banyak topeng yang dibutuhkan untuk menutupi aib bangsa ini yang rela menghancurkan satu-satunya bumi yang dimiliki hanya untuk menggunduli hutannya sendiri? Perajin topeng itu tak hanya menjaga seni dan tradisi, tapi juga lingkungan.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec