25
Sep-2015

Museum “Wajib” Promosi Secara Kontinue

Upaya menaikkan kesadaran masyarakat agar mau berkunjung ke museum membutuhkan usaha keras. Di sinilah, tantangan bagi pengelola museum di Indonesia. Kalau mereka tidak mau berubah pola pengelolaan dan promosi, bisa dipastikan ‘kematian’ museum tinggal menunggu waktunya.

Problem museum yang di Indonesia hampir seragam. Yaitu, kurangnya pengunjung yang mengapresiasi atas koleksi dan keberadaannya. Karena itu, perlu upaya melakukan promosi secara terus menerus agar kesadaran mengunjungi museum meningkat.
“Pengelola museum banyak yang tidak profesional dan berubah dari pola pengelolaan yang konvensial. Bahkan, ada sindiran, perbedaan antara museum dengan gudang tipis, apek, dan lainnya,” kata Ketua Mitra Museum Indonesia (MMI) Prof Wiendu Nuryanti PhD di kantor STUPPA, baru baru ini.
MMI bekerja sama dengan ICCT dan Stuppa Indonesia menyelenggarakan diklat manajemen museum dan pariwisata, serta mengumumkan pemenang Museum Selfie Award 2015.

Perempuan yang juga mantan wakil menteri kebudayaan ini menambahkan, beberapa hal yang menjadi catatan dalam pengelolaan museum adalah soal kreativitas pengelola. Ini menyangkut fisik (koleksi) maupun nonfisik (keterangan dari koleksi yang dimaksud). Berikutnya, dalam pengelolaan, kebanyakan museum belum maksimal. Misal mengembangkan café, souvenir shop, dan lain-lain. Terutama pada museum yang dikelola pemerintah atau menggunakan dana APBN.
“Pengelola museum takut, karena banyak aturan yang mengikat. Kalau melanggar aturan dan membuat ribet di belakang hari. Berbeda dengan swasta, cepat tanggap dan bisa luwes bekerja sama dengan individu maupun perusahaan atau instansi lain, termasuk museum lain,” papar Wiendu yang juga dosen Fakultas Teknik UGM ini.

Di mata Wiendu, ia melihat sumber daya manusia (SDM), seperti guide, pengelola dan lain-lain belum berperan maksimal. “Tentu saja ada faktor lainnya. Seperti marketing, menata koleksi, cinderamata, dan lainnya,” tegas Wiendu.
Direktur Institute for Culture, Creative, and Tourism Development (ICCT) Prof AtyantoDharoko melihat, ada perbedaan yang mendalam antara museum yang dikelola swasta dengan pemerintah atau menggunakan dana APBN. Museum yang dimiliki swasta, cepat beradaptasi, berkembang, dan dikelola secara profesional , seiring kebutuhan museum untuk lebih baik. Sebaliknya, museum yang dimiliki pemerintah, cenderung stagnan dan tidak ada keinginan untuk mengembangkan diri.
“Beberapa museum yang dimiliki pemerintah, memang ada yang sudah bagus. Seperti Museum Nasional, yang diharapkan menjadi rujukan museum di Indonesia,” kata Atyanto.

Di Indonesia, ada 400-an museum yang ada. Dari jumlah itu, museum yang dikelola oleh pemerintah atau menggunakan dana APBN kurang dari 30 museum. Adanya danais (dana keistimewaan) di DIJ, diharapkan menjadi momentum membaiknya museum yang ada.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec