29
May-2016

Pelestari Benda Purbakala di Bantul

Museum ini belum lama dibuka. Kehadirannya menambah koleksi dan keberagaman benda-benda purbakala di Yogyakarta dan sekitarnya, lebih-lebih Bantul.

IMG_5241+Baru pada 10 Maret 2014 kemarin museum dengan nama Museum Sejarah Purbakala Pleret Bantul ini dibuka. Secara resmi museum ini belum diresmikan dibuka, tetapi masyarakat sudah diperbolehkan bekunjung dan melihat-lihat koleksi museum. “Kami tetap layani siapa pun yang berkunjung ke museum ini,” kata Susanto, koordinator pengelola museum.

Tingkat kunjungan museum setelah dibuka cukup bagus dan menarik, yaitu 1.121 orang per akhir Juni 2014. Di antara sekian pengunjung ada 1 orang bule dari Belanda. Bahkan museum ini menjadi salah satu wajib kunjung bagi siswa dan sekolah yang mengikuti program kunjungan ke museum. Dalam program ini, sekolah memilih 2 kunjungan ke museum, salah satunya kunjungan
wajib ke museum yang dipilih.

Koleksi-koleksi museum purbakala di sini lebih banyak menyimpan benda purbakala IMG_5230+seperti umpak, batu untuk pagar, tempat sesaji, dan juga arca-arca. Batu-batu itu sebagian besar berada di halaman kompleks museum, ditata di atas rerumputan halaman museum tersebut. Sementara untuk arca-arca dan batu dalam ukuran lebih kecil disimpan di dalam ruangan museum. Seperti Jobong, bis sumur berdiameter lebih kurang 80 sentimeter, arca Agastya, resi Hindu yang menyebarkan Hindu di Nusantara, dan juga arca Ganesha. Beberapa yang lain seperti batu bata dalam ukuran besar sebagai material bangunan kerajaan Mataram Islam di Pleret.

IMG_5403+“Di sini juga ada koleksi foto-foto bersejarah seperti keadaan Pabrik Gula Kedhaton di Pleret,” kata Trias Indra Setiawan, petugas museum yang mendampingi setiap kali ada kunjungan. Apa yang dikatakan Indra, sapaan akrabnya, ternyata membuat museum ini memiliki kekhasan. Lebih-lebih untuk koleksi-koleksi temuan benda bersejarah di daerah Pleret dan sekitarnya.

Seperti diketahui Pleret dan sekitarnya merupakan kawasan bersejarah karena pernah menjadi pusat dan ibu kota kerajaan Mataram Islam zaman Sunan Amangkurat I. Konon lokasi museum pun tepat berada di bekas keraton. Satu penanda yang sampai sekarang masih terawat dengan baik adalah sumur gemuling. Sumur dengan diameter kira-kira satu IMG_5381+meter tersebut diyakini sudah ada sejak keraton masih ada. Sampai sekarang pun sumur tersebut masih sering didatangi khususnya bagi mereka yang yakin bahwa air dari sumur itu bisa mendatangkan kemujaraban. “Bahkan ada pula yang meyakini, meskipun kedalamannya hanya 2 meter tetapi dengan mata batin kedalamannya sampai tembus ke laut selatan,” terang Indra.

Lokasi:

Jalan Raya Pleret

Jam Buka Museum:

Senin – Kamis: 07.30 – 16.00 WIB
Jumat: 07.30 – 15.30 WIB
IMG_5296+
Sabtu – Minggu: Tutup

Biaya:

Gratis, tidak dipungut biaya (setidaknya sejauh museum belum secara resmi dibuka)

Transportasi:

IMG_5264+
Sejauh ini hanya ojek yang tersedia dari perempatan Pasar Jejeran menuju museum. Untuk menuju perempatan Pasar Jejeran, pengunjung bisa naik bis dari Terminal Giwangan Yogyakarta arah ke Imogiri. Tetapi jika memungkinkan menggunakan kendaraan pribadi agar lebih mudah menuju akses obyek yang lain.

Kuliner:

Sama dengan kuliner yang tersedia di sepanjang jalan dan daerah Pleret, aneka ragam olahan sate kambing, tongseng, dan gulai.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec