13
Jun-2016

Pesta Rakyat Itu Bernama Rasulan

Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta, tak hanya kaya dengan pantai nan cantik dan relatif masih perawan. Kabupaten di tenggara Jogja ini, masih menyimpan banyak potensi lain. Gua-gua karst dan aliran sungai bawah tanah, banyak yang belum tergali, seni budaya juga banyak ragamnya. Salah satunya adalah tadisi Rasulan.

Rasulan, saat ini masih menjadi agenda tak terlupakan bagi masyarakat Gunungkidul dari ujung barat kecamatan Panggang hingga ujung timur di di Girisobo. Ada masyarakat yang menggelar Rasulan di tingkat dusun, tapi tak jarang pula Rasulan yang digelar ditingkat desa. Pengunjung dan tentu saja masyarakat lokal, bisa menikmati kirab budaya sampai makanan gratis, saat acara berlangsung.

Rasulan adalah salah satu tradisi khas masyarakat Gunungkidul, DIY. Salah satu kearifan lokal yang patut dilestarikan. Tradisi Rasulan juga dikenal dengan bersih dusun atau desa sudah ada sejak zaman dahulu kala. Pada awalnya, Rasulan adalah kegiatan para petani sebagai bentuk perwujudan syukur setelah masa panen tiba. Kemudian, Rasulan bisa dilaksanakan jauh sesudah masa panen atau malah belum selesai panen.Rasulan 3

Banyak rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Rasulan ini. Biasanya kegiatan ini di mulai dengan kegiatan bersih dusun dengan melakukan kerja bakti di sekitar lingkungan mereka. Acara pun menjadi semakin semarak dengan berbagai pertunjukan yang di adakan seperti reog, jathilan, kethoprak, wayang, dan kegiatan pementasan kesenian yang lain.
Pada puncak acara di adakan semacam kirab mengelilingi dusun. Semua peserta kirab mengenakan aksesoris tradisional ataupun sesuatu yang unik untuk di pertontonkan. Biasanya kostum- kostum yang di kenakan merepresentasikan kehidupan masyarakatnya yaitu seperti kelompok petani yang memakai caping dan cangkul, guru yang memegang buku, siswa- siswi sekolah yang mengenakan seragam sekolah, kelompok seni dengan seragam identitasnya, klub sepak bola dengan seragam bolanya, dan masih banyak lagi. Rasulan 2Ada juga kelompok pemuda yang mengenakan seragam tentara dengan meriam tiruan dari bambu sebagai perlambang ketahanan dan keamanan. Selain mengenakan berbagai macam aksesoris, juga di sertakan segala macam hasil bumi yang merupakan bentuk syukur masyarakat atas panen yang melimpah.
Masyarakat Gunungkidul memaknai Rasulan sebagai hari raya ketiga selain Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi, even budaya ini mirip dengan tradisi Lebaran, di mana seseorang datang ke tempat kerabatnya untuk bersilaturrahmi dan menikmati hindangan spesial yang disediakan oleh tuan rumah. Oleh karena itu, pada hari “H” pelaksanaan Rasulan ini, setiap keluarga biasanya membuat makanan spesial untuk tamu-tamu mereka. Dengan demikian, keberadaan tradisi Rasulan ini menjadi salah satu wadah bagi masyarakat Gunungkidul untuk memupuk semangat kekeluargaan dan mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Belum ada catatan resmi mengenai sejak kapan Rasulan ini dilaksanakan. Namun, yang pasti bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Gunungkidul. Tradisi yang diselenggarakan setahun sekali ini biasanya berlangsung beberapa hari.Rasulan 3
Sebagai salah satu bentuk kearifan lokal (local wisdom), ada beberapa nilai positif dari pelaksanaan tradisi Rasulan ini. Yang pertama yaitu adanya kesadaran bahwa rejeki yang di terima merupakan Anugerah dari Yang Maha Kuasa yang patut di syukuri. Ini berkaitan dengan inti dari pelaksanaan Rasulan itu sendiri yaitu sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang telah di berikan oleh Sang Pencipta.
Yang kedua yaitu adanya semangat untuk memelihara budaya dan kesenian. Hal ini tercermin dengan adanya acara- acara kesenian seperti kethoprak, reog, jathilan, wayang, dan kegiatan seni lainya dalam setiap pelakasanaan Rasulan. Ini merupakan suatu hal yang positif mengingat saat ini kemajuan zaman dan informasi telah dengan cepat mengikis budaya bangsa yang patut kita lestarikan.
Rasulan 6Ketiga yaitu sebagai sarana untuk kembali memupuk semangat kekeluargaan antar warga. Dengan adanya tradisi ini masyarakat terus menjaga kebersamaan baik untuk kegiatan pra Rasulan maupun saat pelaksanaan itu sendiri yang tentu saja dapat memupuk kembali semangat kekeluargaan.
Lokasi
Rasulan dilaksanakan hampir di setiap dusun maupun desa yang ada di Kapubaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indonesia. Waktu pelaksanaannya berbeda-beda, bergantung pada kesepakatan masyarakat warga setiap dusun. Namun, tradisi Rasulan biasanya dilaksanakan pada bulan Juni dan Juli setiap tahunnya.

Akses
Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu wilayah kabupetan yang terletak di sebelah selatan DIY. Akses menuju ke kabupaten ini cukup mudah, karena dapat ditempuh dengan menggunakan roda empat maupun roda dua, baik kendaraan umum maupun pribadi.

Tiket
Pengunjung yang ingin menyaksikan tradisi Rasulan ini tidak dipungut biaya sepeserpun.

Akomodasi dan Fasilitas
Berhubung karena lokasi pelaksanaan Rasulan kebanyakan dilaksanakan di dusun-dusun atau di desa-desa, maka pengunjung yang membutuhkan akomodasi berupa tempat menginap dapat mencari penginapan di kota-kota kecamatan terdekat atau Kota Wonosari. Bagi pengunjung yang tidak membawa kendaraan pribadi, di kota-kota kecamatan atau kota kabupaten tersedia ojek motor yang siap mengantar Anda menuju ke lokasi pelaksanaan Rasulan.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec