29
Jun-2016

Suroloyo, Secuil Sejarah Mataram (2)

Wisata   /   Tags: , ,

Puncak Suroloyo 5Dari kitab Cabolek kita tahu, Suroloyo punya peran penting dalam sejarah Mataram. Karena ini, berkunjung ke kawasan ini bukan sekadar menikmati alam, tetapi juga merasakan ketenangan batin seorang Sultan.

Alkisah, dalam Kitab Cabolek diceritakan, Raden Mas Rangsang, Putra Mahkota Mataram ketika itu, menerima wangsit untuk berjalan ke arah barat. Ketika itu, Mataram memiliki pusat pemerintahan di Kotagede. Bagi seorang ksatria, wangsit bukan sekadar mimpi atau gambaran halusinasi. Wangsit adalah semacam perintah dari Yang Maha Kuasa, karena ada makna yang harus dicari jawabannya.

Karena itulah, setelah menerima wangsit untuk berjalan ke arah barat itu, Raden Mas Rangsang pun kemudian memulai petualangannya. Dia berjalan menyusuri wilayah Mataram, hingga mendaki perbukitan Menoreh. Setelah berjalan sejauh sekitar 40 Km, dia Puncak Suroloyo 6pun beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Dalam istirahatnya, Raden Mas Rangsang tertidur, dan kembali menerima wangsit untuk kedua kalinya. Kali ini, dia diperintahkan untuk bertapa, mengurai makna dari tugasnya sebagai pemimpin rakyat, agar bisa bersikap lebih adil dan bijaksana.

Maka kemudian, bertapalah Raden Mas Rangsang di puncak perbukitan Menoreh ini. Ada begitu banyak makna hidup yang dia peroleh dalam proses pengenalan diri ini. Tempat dimana Raden Mas Rangsang, yang ketika bertahta bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo inilah, yang kini dikenal sebagai Suroloyo. Tidak mengherankan jika masih ada begitu banyak orang datang ke tempat ini untuk bertapa. Sebagai bagian dari upaya meresapi apa yang dilakukan Sultan Agung ratusan tahun lalu.

Tetapi, bagi Anda yang tidak ingin melakukan pertapaan, Suroloyo tetaplah pantas menjadi pilihan untuk dikunjungi. Dalam diam, rasakanlah bagaimana angin dingin yang Puncak Suroloyo 9berganti-ganti arah di kawasan ini, mengajak Anda untuk merenung sejenak. Pemandangan luas biasa di kejauhan, puncak Merapi, Merbabu, Sindoro dan Sumbing yang berselimut awan, lalu titik warna hitam di bawah yang merupakan Candi Borobudur, dan lansekap luar biasa di sekitarnya adalah kombinasi tak ada duanya.

Bagi mereka yang dekat dengan budaya Jawa, Suroloyo juga punya peran penting. Tempat ini sering disebut sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Salah satu dewa paling popular adalah Semar, dan karena itulah di Suroloyo juga terdapat ornamen Semar, untuk menghormati salah satu guru paling berpengaruh dalam kebudayaan Jawa itu.

Setiap tanggal 1 Suro, di tempat ini juga diselenggarakan jamasa pusaka. Pusaka ini khusus pemberian dari Keraton, yaitu Pusaka peninggalan Sri Sultan HB IX, Manggolo Murti yang berwujud tombak, dan Manggolo Dewo yang berwujud songsong (payung). Upacara ini dimulai malam satu Suro, dengan kenduri warga meminta ijin keselamatan selama prosesi jamasan. Kegiatan ini dilaksanakan di sedang Kawidodaren, tempat dimana air jamasan Puncak Suroloyo 1diambil.

Pada pagi harinya, diadakan kirab pusaka yang dijamas sekaligus gunungan hasil bumi. Ribuan orang terlibat setiap tahunnya dalam kegiatan ini, baik untuk memaknai apa yang sudah ditinggalkan oleh Mataram di tanah Suroloyo, maupun mensyukuri apa yang diberikan Tuhan sepanjang tahun.

Inilah Suroloyo, tanah khayangan tempat bersemayam para dewa.

2

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec