30
Jun-2015

Takjil Bubur, Syiar Islam ala Panembahan Bodho

Tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali takjil dengan menu bubur dan sayur lodeh diadakan di masjid Sabiilurrosyad Kauman Wiirejo Pandak Bantul ini. Namun bila dirunut dari sejarah berdirinya masjid peninggalan Panembahan Bodho ini, boleh jadi menu takjil berupa bubur dengan sayur lodeh diadakan sejak abad ke 16 Masehi

Mencemati masjid Sabiilurrosyad sepintas lalu tidak jauh berbeda dengan masjid pada umumnya. Bangunan luas dengan interior yang menyesuaikan perkembangan jaman seakan menjadikan masjid ini tak memiliki ciri khusus. Apalagi keberadaannya agak tersembunyi di tengah perkampungan. Bubur takjil
Akan tetapi bila diperhatikan lebih jauh dengan merunut sejarah berdirinya masjid ini, Anda akan terkagum. Masjid Sabiilurrosyad merupakan salah satu saksi bisu perjuangan Panembahan Bodho dalam menyiarkan ajaran Islam di abad ke 16 M. Di saat itu, mayoritas penduduk Kauman atau yang lebih dikenal Pijenan adalah pemeluk Hindu.
Panembahan Bodho yang bernama asli Raden Trenggono merupakan anak dari Raden Husain atau yang lebih dikenal sebagai Adipati Terung III penguasa Kerajaan Demak. Raden Husain ini adalah anak Prabu Brawijaya Pamungkas. Dan sebutan atau nama Panembahan Bodho sebenarnya bukan nama atau gelar yang diberikan, namun karena dianggap bodoh ( bodho) karena menolak tawaran sang ayahanda untuk menjadi Adipati guna mewarisi Kerajaan Demak. Namun Panembahan Bodho lebih memilih dan mengutamakan menyiarkan agama Islam dari pada menerima jabatan sebagai Adipati.
Agama Islam dan Bubur
Bubur takjilSebagai ulama besar yang diyakini sebagai Waliyulloh, Panembahan Bodho yang murid Sunan Kalijaga memiliki komitmen yang tinggi terhadap penyebaran agama Islam. Hal ini dibuktikan dengan tetap memilih tinggal di Kauman daripada pulang ke Demak. Apalagi kondisi masyarakat saat itu belum paham akan ajaran agama Islam sehingga Panembahan Bodho merasa berkewajiban menyampaikan serta menyiarkan agama Islam dengan tetap memperhatikan dan tetap menghormati pemeluk agama Hindu.
Di masjid yang awalnya hanya berukuran 7×7 meter, Panembahan Bodho giat menyiarkan ajaran Islam. Namun karena masih terasa asing, banyak warga yang enggan datang, apalagi kondisi perekonomian saat itu masih serba kekurangan. Kehidupan masyarakat masih jauh di bawah kesejahteraan. Sehingga warga lebih mementingkan mencari penghasilan ketimbang belajar agama.Bubur takjil
Sebagai ulama besar, Panembahan Bodho tak kurang akal. Memasuki bulan Ramadhan Panembahan Bodho mengelar takjil dengan menu bubur lengkap dengan sayur lodeh. Dan warga pun dikumpulkan kemudian diberikan ajaran-ajaran agama Islam. Kegiatan takjil diadakan selama satu bulan penuh. Strategi ini jitu, terbukti banyak yang bersedia belajar ajaran Islam.
Karena dinilai sebagai media yang efektif dalam mengumpulkan warga guna menyebarakan ajaran Islam kegiatan takjil berlangsung pada tahun-tahun berikutnya. Bahkan setelah sepeninggalan Panembahan Bodho, warga selalu mengelar takjil. Karena merupakan warisan yang memiliki manfaat besar dan sebagai wujud penghormatan kepada Panembahan Bodho, meski saat ini warga Kauaman hidup sejahtera, takjil dengan bubur bersayur lodeh itupun tetap dilestarikan.
Bubur TakjilMenurut salah takmir masjid Sabiilurrosyad, Nur Jauzak, takjil bubur memiliki pesan religius serta merupakan ajaran yang adiluhung. Masyarakat setempat masih memilki minat dan antusias tinggi karena takjil bubur memiliki simbol-simbol dalam menyiarkan ajaran agama.
Menurut Nur Jauzak bubur memiliki makna lembut seperti teksturnya. Di sini mengandung arti bahwa ajaran agama Islam harus disampaikan dengan penuh kelembutan sehingga mudah diterima oleh masyarakat awam. Seperti halnya bubur yang cocok di perut orang yang sedang berbuka puasa. Makna lain bubur, lanjutnya, adalah beber atau menjelaskan. Artinya, ajaran Islam disampaikan melalui penjelasan-penjelasan, sehingga sebelum berbuka, diadakan pengajian sebagai wahana penyampaian ajaran dan syiar agama Islam.
“Bubur juga bernakna babar atau merata. Artinya, ajaran Isalam harus disampaikan ke seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” ujar Nur Jauzak yang merupakan keturunan Panembahan Bodho generasi ke-13 ini.
Ditambahkan Ayah seorang putra ini, takjil dengan bubur serta sayur lodeh dan saat ini tambahan berupa lauk dilaksanakan selama satu bulan penuh. Akan tetapi khusus tanggal 20 Ramadhan atau malam selikuran ( malam 21) takjil bubur diganti nasi. Hal ini sebagai tanda atau pengingat untuk menghadapi 10 hari terakhir puasa yang penuh berkah. Dan di malam 21 tersebut warga juga mengadakan kegiatan lain, mulai khataman kitab kuning, rodhat hingga Nuzulul Quran.
Petugas Masak Turun TemurunBubur takjil
Bila di masjid-masjid lain kebutuhan takjil dikerjakan secara bergilir atau dimasak secara bersama, tidak demikian dengan masjid Sabiilurrosyad. Meski petugas masaknya tenaga sukarela, namun mereka petugas masak “warisan”. Petugas masak tersebut adalah keturunan dari petugas sebelumnya. Sehingga tugas dikerjakan secara turun temurun.
“Untuk saat petugas masak tersebut adalah Zurkoni, Wardani dan Kasanudin” sambung Nur Jauzak.
Untuk memasak bubur hanya memerlukan sekitar 3 kg beras dan 3 butir kelapa perhari. Segala kebutuhan seperti beras, kelapa serta sayur mayur merupakan shodaqoh warga Kaumanan. Meski hanya 3 kg beras namun bubur tersebut dapat memenuhi kebutuhan berbuka untuk 75 jamaah, mulai dari anak-anak hingga kalangan orang tua.
Lebih Tua Dari Kraton Yogyakarta
Bubur takjilMasjid Sabiilirrosyad hingga saat ini telah mengalami beberapa kali pemugaran, baik di masa pemerintahan Belanda maupun era kemerdekaan. Pemugaran tersebut antara lain tahun 1895, dengan pengantian kerangka serta atap. Kemudian tahun 1911 sampai dengan 1913 berupa penambahan serambi masjid, 1925 hingga 1927 penambahan molo pada serambi dan terakhir pada tahun 1982. Masjid Sabiilirrsoyad diyakini berdiri sejak tahun 1485 sehingga keberadaannya juga diyakini umurnya lebih tua daripada Kraton Yogyakarta.
Sebagai masjid tua, Sabiilurrosyad tidak meninggalkan ciri khusus karena semua peninggalan Panembahan Bodho telah termakan usia. Namun begitu bisa dilihat adanya peninggalan berupa mustoko yang terbuat dari tanah liat. Selain itu ada juga prasasti batu gilang yang merupakan tempat meletakkan kaki Panembahan Bodho saat berwudlu. Prasasti tersebut kini diletakan di utara masjid disatukan dengan jam bancet. Jam bancet ini adalah petunjuk masuknya tanda sholat.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec