30
Jul-2015

Empat perempuan cantik bertarung. Seru beradu kekuatan dengan bersenjatakan cundrik dan panah. Mereka saling serang dan sesekali bertahan. Masing-masing terus berupaya melumpuhkan lawan. Namun kekuatan seimbang sehingga pertarunganpun semakin sengit.
Pertarungan tersebut merupakan bagian dari olah seni tari klasik yang dibawakan oleh Citra Wahyu Arsiani, Tirta Mayasari, Mila Restu Wardani serta Sri Hastuti dalam Tari Wireng Mandrarini. Gemulai keempat penari tersebut terlihat mbanyu mili senafas dengan penjiwaan yang sempurna. Setiap gerak pun terasa menyatu dalam peran lahir batin setiap penari. Sehingga antara.penari dan peraga tercipta keharmonisan serta keselarasan yang sempurna dalam sebuah cipta olah karya.Tari Wireng Mandrarini1
Dengan lentur serta luwesnya mereka membawakan tarian ini hingga mengambarkan teknik menari yang utuh serta prima dalam penguasan total pada aspek batiniahnya. Tarian Surakarta yang bernafaskan lungguh, sengguh dan ora mingkuh membius penonton.
Tari Wireng Mandrarini, yang merupakan tarian dari Pura Mangkunegaran Surakarta ini merupakan satu diantara tujuh tarian klasik yang dipentaskan dalam Gelar Budaya Jogja 2015, di Pagelaran Kraton Yogyakarta. Tari Wireng Mandrarini mengambil cerita dari siklus Panji, dibuat pada masa Mangkunegara VII .
Tari Wireng Mandrarini menggambarkan adu kekuatan antara Ratu Suprabawati dengan Dewi Genawati, Sigaluh dengan Ratu Srikaya Rajadhi dan Dewu Nilawati dari Nungswa Brambang. Mandrarini yang berasal dari kata Mandra berarti tari serta Rini artinya adalah wanita sehingga Mandrarini berarti tarian yang dibawakan oleh para wanita.
Empat penari wanita ini tampil dengan mengenakan simbol busana dari Mangkunegara, yakni busana warna hijau serta kuning.
Selain tarian Pura Mangkunegara Surakarta, Gelar Budaya Jogja 2015 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY ini juga menampilkan tarian klasik Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman serta Kasunan Surakarta.Tari Klasik
Dua Tempat
Disamping pentas tari klasik yang dipusatkan di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Dinas Kebudayaan DIY juga mengelar kegiatan berupa pameran benda pusaka, batik serta kuliner yang bertempat di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY. Acara akan ditutup dengan pentas wayang kulit.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono didampingi Agus Amarullah mengungkapkan kegiatan Gelar Budaya Jogja 2015 dalam penyelenggaraannya difokuskan pada obyek Festival atau Parade Adat dan Budaya 4 kraton. Yakni Kraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Kasunan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Dalam rangkaian kegiatan ini juga ditampilkan kesenian dari daerah, seperti seni religi, seni tradisional hinga seni dagelan mataram.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec