25
Sep-2017

Terjebak dalam Ketenangan Kali Pusur

Diantara yang tertarik berkunjung ke aliran Kali Pusur di Desa Karanglo, Polanharjo Klaten.

Diantara yang tertarik berkunjung ke aliran Kali Pusur di Desa Karanglo, Polanharjo Klaten.

SUATU sore, dua pekan lalu. Tidak terasa, 2 jam telah berlalu. Kendati udara mulai dingin, enggan rasanya menarik kaki dari kungkuman jernihnya air di salah satu sudut Kali Pusur. Ya..sebuah aliran sungai yang membelah Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Klaten.

Airnya yang jernih terasa sejuk. Seakan menelusup pori-pori di sekujur kaki dan sekaligus mengusir rasa kaku dan pegal. Sesekali, mata masih sempat melihat ikan-ikan kecil yang seliweran berkejaran.  Selebihnya, hanya suara gemericik air yang berebut saling mendahului di sela-sela bebatuan, tertangkap lubang telinga.

Hingga sebuah tepukan ringan di pundak dari seorang kawan, mengembalikan kesadaran bahwa Sang Surya mulai menghilang dari pandangan, berganti dengan suasana yang meremang.

Bergegas, kami bangkit dari bebatuan yang masih menghangat karena terpaan sinar surya. Juga karena sisa suhu badan kami yang membekas. Berjalan gontai sembari menjinjing perbekalan kecil, kami kemudian menemui Pedro Sarjono, yang memang sudah menunggu di tebing kali.

Sembari menyeruput teh hangat dan sesekali mengunyah pisang rebus yang masih mengepul, Pedro lantas mengumbar cerita. Sebelum seperti sekarang, Kali Pusur dulunya sangat jarang dikunjungi orang. Jangankan mereka dari luar daerah, warga sekitar saja malas ke sungai.

Penyebabnya, bukan saja tebing yang curam, tapi juga nyaris tidak ada yang dapat dinikmati. Timbunan sampah menumpuk di sepanjang aliran membuat sepet mata yang melihat. Timbunan sampah ini, otomatis juga membuat air Kali Pusur kotor.

“Aliran Kali Pusur di kawasan Polanharjo Kabupaten Klaten merupakan daerah irigasi untuk lahan pertanian di beberapa desa. Namun dalam perkembangannya kali yang seharusnya dijaga kelestariannya justru sering disalahgunakan orang sebagai tempat untuk membuang sampah. Akibatnya kali menjadi kotor dan terkesan kumuh,” tutur Pedro.

Kondisi sungai ini, ternyata membuat gelisah almarhum Joyo Bisono, yang tidak lain adalah ayah dari Pedro.

Kepedulian sang ayah, kemudian diteruskan oleh Pedro dan salah satu saudaranya Bagong Margono. Dua bersaudara ini bekerja dan berpikir keras, bagaimana caranya agar aliran Kali Pusur bisa pulih dan lestari.

Melihat Kali Pusur yang banyak bebatuan dan aliran airnya yang nyaris tanpa henti, Pedro dan Bagong kemudian berusaha menjadikan potensi ini sebagai asset. Upaya membersihkan sungai terus dilakukan, seiring dengan kampanye untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.

“Program ini kami dorong terus. Karena membangun kesadaran tidak bisa serta merta, perlu waktu dan tekad. Kami juga berpikir, semangat ini harus terus ditularkan dan disebarkan. Kemudian muncullah gagasan untuk menjadikan Kali Pusur sebagai kawasan wisata edukasi lingkungan. Dengan cara ini, kami yakin akan lebih menjamin kelestariannya,” kata Pedro penuh semangat.

Dari ide ini, pelan tapi pasti Pedro dan Bagong merealisasikannya. Bermula dari Bagong yang berhasil mengelola kawasan wisata Water Gong yang juga dialiran Kalu Pusur. Pedro kemudian juga mengembangkan kawasa wisata yang diberi nama Rivermoon Outbound Fun Tubbing (ROFT). Semua ini, memanfaatkan areal pertanian sekitar 3 hektar peninggalan sang ayah.

“Kawasan ini sekitar empat bulan lalu dibuka sebagai tempat wisata edukasi. Pembangunannya belum rampung dan akan dilanjutkan di tahun 2018,” lanjut Pedro menjelaskan.

Saat ini, pembangunan masih jauh dari sempurna. Toh demikian, mulai banyak pengunjung dari luar daerah yang berdatangan. Utamanya rombongan keluarga, siswa TK, SD dan lain sebagainya.

“Mereka ada yang berwisata outbound dan ada juga yang sekadar pengin berenang di kali,” ujar Sarjono.

Bagi Pedro, apa yang ada di Rivermoon Outbound Fun Tubbing saat ini, belum cukup memadai dan layak untuk dikatakan sebagai tempat wisata karena fasilitas belum lengkap. Namun karena pada Sabtu, Minggu dan hari libur sudah banyak pengunjung maka dirinya merasa tergugah untuk melengkapi fasilitas itu hingga nantinya kawasan itu benar-benar layak dikatakan sebagai tempat wisata.

Maka berbagai upaya dilakukan, termasuk diantaranya harus meminta izin dari Balai Besar Bengawan Solo, yang menjadi pengelola dari seluruh aliran sungai di wilayah ini.

“Ada banyak persyaratan yang harus kami penuhi. Salah satunya, tidak diperbolehkan mendirikan bangunan permanen diatas kali dan di daerah alirannya. Tentu kami harus mematuhinya. Berbagai fasilitas yang akan kami bangun, termasuk fasilitas kuliner, kamar ganti pakaian dan toilet serta kolam renang, harus memperhatikan ketentuan ini,” pungkasnya.

Untuk saat ini, pengunjung yang pasti dapat menikmati suasana aliran kali yang masih cukup asri. Apabila cukup memiliki keberanian, mereka juga bisa mencoba river tubing, yakni semacam paket hematnya rafting atau arung jeram. Bedanya, rafting dilakukan di sungai berarus deras secara berkelompok dan menggunakan perahu karet serta dayung. Sedangkan river tubing adalah menyusuri sungai berarus sedang secara individu menggunakan pelampung dari ban dalam mobil dengan kedua tangan sebagai dayung.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec