08
Feb-2014

Tradisi Sambatan Kami

Galeri   /   Tags: ,

Kecipak gayung menghantam permukaan air di dalam bak, dentam panci beradu dengan tepi loyang, suara gesekan kelapa ketika dicincang parut atau bahkan celoteh kami sendiri ketika bekerja sembari bergurau, sungguh semua itu sudah demikian akrab di telinga kami. Tak ada segepok target dagang menghadang, tak ada kontrak kerja yang mengikat dan tak ada keculasan untung rugi yang menjebak . Semua ukuran berpangkal pada ketulusan. Bahkan segala kesepakatan dasar azasnya hanyalah kerukunan. Demikianlah maka kami menyebutnya Sambatan. Bagi kami yang keseharian merupakan pengguna bahasa Jawa sebagai media komunikasi, sambatan secara bebas kami artikan sebagai kerja gotongroyong.

Kami tinggal di wilayah perbukitan karst Gunungkidul, tepatnya di Dusun Srumbung, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Gunungkidul. Turun-temurun kami hidup sebagai petani dalam lingkungan dan tata cara tradisi agraris sehingga kami terbiasa bekerja dan melakukan kegiatan secara bersama-sama. Sambatan biasanya kami selenggarakan ketika ada keluarga yang sedang punya hajat mantu, sunatan, selamatan atau hajatan keluarga yang lainnya. Kerja sambatan juga akan kami lakukan bersama ketika berlangsung hajatan komunal seperti tradisi-tradisi yang secara berkala harus diselenggarakan kampung atau desa. Di sini kami mendapati hikmah bahwa jerih payah sambatan ini yang akan menikmati hasilnya sesungguhnya kami juga. Bagaimana tidak, ketika sebuah keluarga menggelar hajat mantu yakni menikahkan salah satu anggota keluarga, yang olah-olah atau memasak untuk keperluan perhelatannya adalah kami para tetangga. Kemudian tamu undangan yang menghadiri acara perhelatan selain dari luar kampung adalah kami-kami juga. Atau saat ritual merti dusun, seluruh kebutuhan perhelatannya kami yang mempersiapkan secara bergotongroyong. Kemudian pada puncak ritualnya kami juga yang menghadiri dan menikmati hidangan yang sebelumnya kami buat sendiri.

Meskipun bekerja secara sukarela dan gotong-royong, namun dalam sambatan kami juga mengenal adanya spesialisasi. Pemimpin sambatan biasanya adalah orang yang kami tuakan, karena dia lebih hafal segala persyarakat maupun uba rampe kelengkapan kebutuhan serta hidangan perhelatan. Lalu ada spesialis menanak nasi, spesialis tukang rajang atau pemotong sayur, spesialis goreng-gorengan, spesialis pembuat minuman dan sebagainya. Khusus spesialis pembuat minuman biasanya adalah laki-laki. Kami tidak tahu pasti alasannya, tetapi itu kebiasaan yang kami terima dari leluhur kami. Barangkali karena kerja membuat minum ini paling sibuk dan tidak pernah berhenti, sehingga pantas dilakukan laki-laki. Spesialisasi ini biasanya terbentuk dengan sendirinya sesuai dengan citarasa dan ketrampilan masing-masing. Jika karena suatu hal maka pekerjaan itu tidak dilakukan oleh spesialisnya maka biasanya akan segera dapat diketahui, lalu akan muncul komentar-komentar seperti,”Wah, rasa tempe gorengnya tidak mantap. Pasti ini bukan gorengan Yu Situg…” Atau, “Sayur Kluwihnya hambar, kurang gurih, pasti bukan olahan Mbah Tugir”. Dan sebagainya.

Tradisi sambatan ini kami terima dari pendahulu-pendahulu kami yang sebelumnya juga menerima warisan tradisi ini dari leluhur-leluhur mereka dan demikian seterusnya. Kami ingat, waktu masih kanak-kanak kami sangat suka bermain-main di sekitar tempat sambatan, karena ketika berlarian acapkali orangtua atau kerabat kami memanggil. Lalu mereka memberi sedikit makanan yang sedang diolah sambil berkata, “Coba dicicipi”. Memang ada yang beranggapan ngisin-isini atau memalukan anak-anak berada di sekitar tempat sambatan karena dianggap hanya meminta-minta makanan. Tetapi justru ketika kami “dekat” itulah maka kenangan itu terbawa sampai kini dan tradisi itupun terus hidup bersama kami. Maka kami tak mempermasalahkan ketika anak-anak kami bermain di sekitar tempat sambatan, karena kenangan merekalah yang nantinya akan melestarikan tradisi ini dan mewariskan pada penerusnya.

Bukannya tanpa pamrih ketika kami terlibat dalam kerja sambatan. Namun kembali lagi, pamrih kami bukanlah segepok target dagang atau perhitungan seberapa besar tenaga dan pikiran yang kami sumbangkan akan mempengaruhi besaran rupiah yang kami dapat. Bukan perhitungan untung rugi yang dangkal dan materialistis seperti itu pamrih kami. Ada nilai yang lebih mulia dan terhormat bagi kami yakni ketenteraman. Kami menjadi tenteram ketika terlibat sambatan, memberikan sumbangsih setulus dan semaksimal mungkin karena nanti, suatu ketika kami sendiri juga akan menjadi penyelenggara hajatan. Pada saat anak lelaki kami sunatan, atau anak perempuan kami menikah, atau calon cucu kami genap hitungannya memasuki ritual mitoni (7 bulan dalam kandungan) itulah antara lain beberapa hajatan keluarga yang akan membutuhkan bantuan tetangga . Belum lagi nantinya kami harus menggelar selamatan untuk mendoakan leluhur-leluhur keluarga. Tentu itu tidak cukup jika hanya melibatkan segelintir anggota keluarga sendiri. Tentu kami akan sangat membutuhkan kerja sambatan para tetangga. Tenteram rasanya jika semua itu teratasi, karena kami telah memberikan ketulusan dan sumbangsih maksimal.

Naskah & Foto: Himawan

1

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec