Sebagai kota wisata, Yogyakarta tidak pernah habis ditelanjangi. Apalagi menyangkut peninggalan zaman keemasan Kerajaan Ngayogyakarto yang mengalami beberapa fase. Fase sebelum kedatangan Belanda, zaman Jepang, hingga kemerdekaan Republik Indonesia. [pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/07/Tugu-Yogya-2.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Gempa Bumi tahun 1867 yang meruntuhkan bangunan Tugu membuka kesempatan Pemerintah Belanda merombak bentuk golong-gilig menjadi runcing, untuk mengikis spirit persatuan rakyat dan raja, namun tidak berhasil.” link=”” width=”125″ height=””]

Sejarah zaman keemasan itu masih tetap gemerlap. Paling tidak, banyak peninggalan yang justru semakin meneguhkan Yogyakarta sebagai tujuan wisata yang unik tiada duanya.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/07/Tugu-Yogya-3.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Bangunan yang biasa disebut Tugu Pal Putih ini dibangun oleh pendiri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono I.” link=”” width=”125″ height=””] Dari sekian cagar budaya, ada satu bangunan yang menjadi simbol landmark yang masih dipertahankan. Yaitu, Tugu Pal Putih. Namun, masyarakat  banyak menyebutnya dengan Tugu Yogya.

Tugu Yogya merupakan bangunan berbentuk menara yang digunakan sebagai simbol atau  lambang Kota Yogya. Dalam perkembangannya, Tugu Pal Putih tersebut menjadi ikon Kota Yogya. [pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/07/Tugu-Yogya-4.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Perombakan terakhir Tugu selesai pada 18 Desember 2012.” link=”” width=”125″ height=””]

Pal Putih tersebut dibangun oleh pendiri Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono I, kira-kira satu tahun setelah pendirian keraton, tepatnya tahun 1755.

Bangunan yang awalnya bernama Tugu Golong-Gilig ini memiliki nilai filosofis sebagai penanda garis imajiner yang menghubungkan laut Selatan, Keraton Ngayogyakarto, dan Gunung Merapi.

Secara tidak langsung, bangunan ini menggambarkan Manunggaling Kawula-Gusti atau semangat persatuan antara rakyat dan penguasa (raja) melawan penjajah. Semangat persatuan atau yang disebut golong-gilig tersebut tergambar dalam bangunan tugu, di mana tiangnya berbentuk gilig (silinder), dan puncaknya berbentuk golong (bulat).

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/07/Tugu-Yogya-5.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Bangunan Tugu melambangkan Manunggaling Kawula-Gusti, spirit persatuan rakyat dan raja saat berjuang meruntuhkan penjajahan.” link=”” width=”125″ height=””]Dalam perjalanannya, ada perubahan. Terutama saat ada gempa bumi yang menguncang Yogyakarta tahun 1867 yang meruntuhkan bangunan tersebut.

Oleh pemerintah Belanda, dirombaklah wajah bangunan tersebut pada tahun 1889, menjadi Tugu Pal Putih seperti wujud sekarang ini. Cara ini dilakukan sebagai taktik Belanda mengikis persatuan antara rakyat dan raja, meski tidak membuahkan hasil. [pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/07/Tugu-Yogya-6.jpg” align=”right” lightbox=”true” title=”Tugu Yogya atau Tugu Pal Putih merupakan salah satu landmark Kota Yogyakarta.” link=”” width=”125″ height=””]

Seperti sebuah mahkluk hidup, Tugu Pal Putih juga melakukan metamorphosis dan berubah. Tugu Jogja ini melakukan perombakan dan yang terakhir selesai pada 18 Desember 2012. Perubahan ini menjadikan Tugu Pal Putih, lebih bersinar dan muda. Ini ditambah dengan tanaman kecil dan pagar yang menjadi larangan bagi siapa saja untukmenyentuh bangunan bersejarah tersebut.

[pictureframe image=”http://www.jalanjogja.com/wp-content/uploads/2013/07/Tugu-Yogya-7.jpg” align=”left” lightbox=”true” title=”Aktivitas pagi warga dari Pasar Kranggan melintasi Tugu Pal Putih.” link=”” width=”125″ height=””] Tugu yang menjadi ikon Yogya ini menjadi salah satu tempat wajib yang dikunjungi. Rasanya, tidak lengkap rasanya berfoto dan mengabadikan Tugu Pal Putih tersebut saat singgah ke Yogyakarta. Apalagi, tempat ini tidak pernah sepi, meski waktu telah beranjak larut malam hari.

Koordinat:

 7°46′58″LS 110°22′01″BT / 7,782911°LS 110,367021°BT

 Lokasi:

  • Berada di Perempatan Jalan P. Mangkubumi,  AM Sangaji, Jalan Jendral Sudirman, dan Jalan Diponegoro
  • Bisa ditempuh dengan kendaraan umum dan kendaran pribadi. Pilihlah bis kota yang melewati Tugu Jogja.

 Potensi:

  • Dekat Tugu Pal Putih, tepatnya arah Timur sekitar 300 meter, ada Jembatan Gondolayu. Di tempat ini, saat senja bisa menikmati senja sembari melihat Kali Code.
  • Ke arah selatan, sekitar satu kilometer, ada Kawasan Malioboro, Station Kereta Api Tugu, Hotel peninggalan zaman Belanda yaitu Hotel Inna Garuda, dan Pasar Kembang.
  • Wisata kuliner juga bisa dijumpai dekat Tugu Yogya, yaitu Sop Sapi Tugu yang biasa buka pada malam hari,mulai pukul 20.00 hingga habis. Juga gudeg Juminten Kranggan. Dan aneka kuliner ekstrem di Kawasan Pasar Keranggan. Seperti kuliner dari babi, kura-kura, dan lainnya.
  • Banyak hotel yang ada di dekat tugu ini. Mulai dari Hotel Phoenix, Hotel Santika, Pop Hotel, Hotel Tentrem, Hotel Arjuna, Hotel Grand Zuri Malioboro, Hotel @HOM Platinum Gowongan, dan Hotel Griya Sentana.

 [notice type=”green”]Tips:

  • Pilihlah waktu pada sore hari atau malam hari, asal tidak hujan, suasana sangat mendukung.
  • Jika mengambil foto, diharap berhati-hati, karena banyak kendaraan lalu-lalang.[/notice]

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec