27
Jun-2015

Watu Manten, Saksi Bisu Kemolekan Pantai Wediombo

Gunungkidul itu kaya pantai berpasir putih. Indah pantainya seperti mengajak untuk kembali berlama-lama bermain buih atau menyisir di sekujur pantai yang juga kaya dengan bebatuan karang besar itu.

Pantai Wediombo masuk wilayah Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Kecamatan ini hasil pemekaran dari Kecamatan Rongkop. Jalan menuju Pantai Wediombo setali tiga uang dengan sejumlah pantai di Gunungkidul lainnya, berliku dan berkelok naik turun dengan badan jalan yang sempit. Sangat sulit dilewati kendaraan berbadan besar seperti bis. Meski jalannya relatif mulus dan halus, tak kurang adrenalin kita akan dipacu karena jalanan ini mempunyai banyak tikungan tajam dan naik.
Pantai WediomboDi pantai ini sama sekali tidak ada pemandangan aktivitas nelayan. Yang ada hanya pemandangan bebatuan karang di sana-sini. Mulai dari bukit sampai bibir pantai, karang-karang itu menjulang tinggi. Tapi jangan salah, pemandangannya sungguh elok dengan hiasan deburan ombak yang dahsyat, serta pasirnya yang putih. Karang-karang yang menonjol sampai bibir pantai itu disebut geger boyo karena tekstur karang itu memang mirip punggung buaya. Harus hati-hati jika bermain di bibir pantai karena kaki kita akan beradu dengan karang-karang itu. Pantai Wediombo
Pantai Wediombo di tahun 1990-an relatif menjadi pantai yang masih baru. Bahkan asing untuk sebagian orang. Tapi di tahun-tahun itu pula Wediombo sudah mulai menjadi primadona karena kecantikan dan keunikan pantainya yang dipenuhi dengan karang. Sesekali deburan ombak yang menghantam karang itu menjadi sangat dinanti pengunjung karena bisa merasakan pecahan ombak yang menjadi bulir-bulir air yang menyegarkan badan. Hanya saja, sekali lagi, harus hati-hati kalau mau menikmati sensasi ini. Jangan sampai berada di antara deburan ombak yang beradu dengan karang.
Jalan menuju ke pantai ini tergolong unik. Setelah meliku dan menanjak, kita akan sampai di tempat parkir yang lokasinya berada di atas pantai. Jadi kalau mau ke pantai kita harus turun dulu dan mengikuti jalan melingkar di bawah sana. Paling banyak di antara pengunjung adalah mereka yang hobi mancing. Soalnya kawasan pantai ini dikenal sebagai salah satu tempat ideal mancing jenis karangan. Ikan yang paling banyak didapat adalah cakalang, layur, dan cucut.
Pantai WediomboPemandangan sunset sangat elok disaksikan dari bukit-bukit karang di sini. Datanglah saat jam menunjuk pukul 16.00 WIB saat matahari sudah mulai mendekati ufuk barat. Saat itu, sebagian sinar matahari yang lisut ke tanah terhalang oleh bukit yang berada di sebelah barat pantai. Sama sekali bukit itu tidak menghalangi atau mengganggu, justru akan membuat bayangan siluet yang indah dan cantik.
Di tengah laut yang menjorok agak ke barat kita akan menyaksikan dua buah batu karang yang tidak terlalu besar. Hanya saja, untuk melihat dua buah batu karang yang disebut Watu Manten itu agak susah. Paling tidak, kita harus menunggu saat ombak kembali ke tengah laut, barulah kita akan melihat dua buah batu karang itu berdampingan layaknya pasangan yang sedang duduk di pelaminan.
Pantai WediomboDi pantai Wediombo ini Watu Manten menjadi ikon paling khas. Sebenarnya saat berada di parkiran dua buah batu karang ini terlihat dengan jelas meskipun dari kejauhan. Ada banyak mitos dan kisah dari Watu Manten ini. Ada yang percaya kalau keduanya adalah penjelmaan makhluk, ada pula yang mengaku sebagai penanda restu bagi calon pengantin. Sekali lagi, itu mitos. Dan, faktanya adalah Watu Manten sebagai pemandangan yang elok di pantai Wediombo.
Sekali waktu ketika kami berkunjung ke sana ada pemandangan yang aneh dari biasanya. Jarang pantai di wilayah Yogyakarta menjadi tempat asyik bagi para peselancar. Di samping ombaknya keras, batu karang dan palung di pantai-pantai ini sangatlah berisiko tinggi. Tapi sore itu lain. Seorang bule dengan asyik dan berani menantang ombak Wediombo. Bahkan badannya juga meliuk-liuk di antara karang dan sekali waktu berdekat-dekat dengan Watu Manten. Ini tidak hanya unik, tapi mata awam kami mengatakan berbahaya.
Pantai WediomboAh, mungkin ini pandangan orang yang terlalu termakan mitos saja. Toh, si bule seperti tidak peduli dengan mitos atau mungkin karangan orang sok tahu saja. Yang ada di pikirannya adalah betapa eloknya Wediombo hingga sayang kalau dilewatkan begitu saja untuk tidak berselancar.
Itulah Wediombo. Pantai sejuta elok dan mooi….

Tarif tiket:
Setiap kali masuk pengunjung dikenai biaya Rp 2.000,00
Parkir mobil Rp 5.000,00. Untuk motor Rp 2.000,00.

Tips:
Sebaiknya persiapkan fisik bila ingin ke pantai Wediombo karena jarak dari Kota Jogja sampai pantai lebih kurang 95 kilometer dengan lama perjalanan kira-kira 3 jam. Bawalah makanan dan minuman, sebab di pantai ini masih jarang penjual makanan. Apalagi jika sampai sana pas sore menjelang senja, dijamin tak ada satu pun warung yang buka. Selain itu, jangan lupa bawa senter atau alat penerang lainnya, sebab belum ada jaringan listrik yang sampai ke daerah pantai.Pantai Wediombo
Di Pantai Wediombo terdapat penginapan dengan tarif Rp 150.000,00 per malam. Penginapan ini belum ada lampu penerangnya dan hanya akan diberi lampu petromax oleh penjaganya. Biasanya penginapan ini untuk rombongan karena berbentuk aula dan tanpa sekat-sekat.
Tidak disarankan untuk mandi di laut. Selain ombaknya yang keras, batu-batu karang yang menonjol bisa melukai badan. Di beberapa tempat di sepanjang Pantai Wediombo biasa juga digunakan berselancar. Biasanya bule-bule yang berani berselancar. Mereka menginap beberapa hari di pantai. Hanya saja, kegiatan ini harus ada izin dari pengawas pantai dan harap waspada terhadap arah angin laut yang bisa berubah sewaktu-waktu.

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec