11
Oct-2013

Wisatawan ke Indonesia Cenderung Pilih Penerbangan Hemat

News   /  

Juga Tinggal di Hotel Bintang Empat

Studi terbaru Visa berjudul Global Travel Intentions Study 2013 menunjukkan, pengunjung atau wisatawan asing ke Indonesia sangat memperhatikan pengeluarannya. Mereka cenderung memilih penerbangan hemat atau rendah biaya. Namun, saat mencari akomodasi, mereka memilih mengalokasikan lebih banyak anggaran pada hotel bintang empat atau di atasnya.

Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara tujuan favorit di Asia Pasifik dengan mayoritas pengunjung dari Malaysia sebanyak 22 persen, Singapura ada 21 persen, dan Australia sekitar 20 persen.

Para wisatawan sangat memperhatikan anggaran atau pengeluarannya. Mereka memilih “good value for money” sebanyak 48 persen dan “sesuai anggaran biaya” ada 41 persen, sebagai alasan utama mengunjungi Indonesia. Alasan lain, wisatawan ke Indonesia karena cuacanya yang bagus, serta pemandangan alamnya yang indah.

Studi yang melibatkan 12.631 responden dari 25 negara, pengeluaran para wisawatan di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan rata-rata pengeluaran turis secara global. Wisatawan yang datang ke Indonesia rata-rata menghabiskan US$ 1.634 (sekitar Rp 18.259.950) per perjalanan dibandingkan pengeluaran turis global sebesar US$ 2.930 (sekitar Rp 32.742.750) per perjalanan.

Namun, turis dari Australia cenderung memiliki pengeluaran lebih besar saat di Indonesia, sebesar US$ 4118 (sekitar Rp 46.018.650) dibandingkan pengeluaran turis dari Malaysia dan Singapura, saat mengunjungi Indonesia. Masing-masing sebesar $ 1145 (sekitar Rp 12.795.375) dan US$ 618 (sekitar Rp 6.906.150).

Kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke Indonesia membelanjakan uang mereka pada sektor ritel (30 persen) dan makanan (25 persen). Sementara pengeluaran terkecil adalah tiket pesawat sebesar 4 persen.

Presiden Direktur PT. Visa Worldwide Indonesia Ellyana Fuad mengatakan, sektor pariwisata memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Inilah yang menyebabkan Visa melakukan Travel Intentions Study sejak 2006 sebagai kontribusi Visa  membantu mengumpulkan informasi yang bermanfaat  bagi industri pariwisata.

Sebagai ilustrasi, sektor pariwisata Indonesia berkontribusi sebesar 5 persen terhadap PDB nasional dan memberikan lapangan pekerjaan bagi lebih dari 8 juta orang di tahun 2012.

Di samping itu, lanjut Ellyana, Visa berkomitmen menggunakan hasil studi ini untuk membantu pembuat kebijakan dan organisasi pariwisata di Indonesia memahami lebih jauh terhadap berbagai dinamika serta pertumbuhan di sektor pariwisata.

Selain wisatawan dari Asia Pasifik, Arab Saudi merupakan satu dari lima negara pengunjung Indonesia terbanyak, termasuk Taiwan. Wisatawan asing umumnya mengunjungi Indonesia tiga kali dalam setahun. Angka yang sama dengan rata-rata perjalanan global.

Wisatawan ke Indonesia ingin menikmati liburan yang sederhana, bebas, dan mudah. Kebanyakan dari mereka ingin menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga (42 persen). Sementara para wisatawan  yang berusia lebih muda (usia 25-34 tahun) ingin berwisata  ke pantai, sebanyak 18 persen.

Wisatawan berusia lebih tua, cenderung tertarik menghabiskan waktunya pada wisata budaya (ada 12 persen).

Pada beberapa tahun ke depan, keinginan berwisata ke Indonesia cenderung meningkat. Terutama bagi turis dengan kategori usia muda. Wisatawan yang ingin mengunjungi Indonesia di beberapa tahun mendatang umumnya masih datang dari negara-negara yang sama. Dengan peningkatan jumlah turis Malaysia (35 persen) dan Australia (19 persen).

“Sesuai anggaran biaya” ada 42 persen dan “good value for money” sebanyak 35 persen. Ini tetap menjadi alasan utama mereka mengunjungi Indonesia,” kata Ellyana.

Ditambahhkan, alaasn lain adalah mudahnya akses berwisata dalam satu kawasan. Termasuk berwisata ke Indonesia, yang diikuti tumbuhnya kelas menengah. Ini sangat berpengaruh pada peningkatan pariwisata di Asia.

Negara-negara Asia telah mengalami peningkatan signifikan dalam sektor pariwisata yang didukung pertumbuhan ekonomi serta promosi wisata akan keunikan masing-masing negara sebagai destinasi pariwisata.

Visa mempresentasikan hasil studi ini pada acara Pacific Asia Travel Association (PATA) City Hub Forum yang diselenggarakan di Hotel Ambarrkumo Yogyakarta, Jumat (11/10). Forum ini merupakan forum PATA pertama yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. PATA adalah organisasi yang bertujuan  mendorong pembangunan berkelanjutan di industri pariwisata Asia Pasifik.

“Kami gembira melihat hasil studi Visa Global Travel Intentions Study yang turut menegaskan sektor pariwisata tetap positif di tengah ketidakpastian ekonomi. Hasil ini menunjukkan, kita berada pada arah yang tepat dalam usaha menarik lebih banyak wisatawan ke Indonesia,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Mari Elka Pangestu.(*)

0

 likes / 0 Comments
Share this post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code

Archives

> <
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec
Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec